PENINGKATAN KUALITAS GURU DI MAGETAN MELALUI LESSON STUDY MENUJU BAROMETER NASIONAL

  Pada prisipnya Lesson Study/Open Class adalah Guru mengajar dilihat orang banyak. Apalagi yang melihat para pejabat, pakar dan masyarakat sertaorang tua, pasti si guru akan tidak tidur semalaman untuk mempersiapkan diri tampil bagaikan artis di panggung. 

Proses pembelajaran di negari ini pada umumnya masih banyak dikuasai oleh guru (teacher-centered), sehingga peserta didik cenderung pasif. Karena peserta didik hanya mendengarkan  materi yang diberikan guru, maka kondisi proses pembelajaran terasa monoton dan akhirnya membosankan.

Pada awalnya guru merasa bangga dan pintar apabila masuk ruang kelas tanpa membawa buku. Mereka begitu lancar dalam menerangkan materi yang diampunya, bahkan dalam satu tahun pun kebanyakan guru sudah hapal diluar kepala. Tanpa persiapan mereka piawai dalam menyampaikan materi yang akan diajarkan. Namun dalam perkembangan dunia pendidikan yang membutuhkan peserta didik aktif, kreatif, serta inovatif maka pembelajaran seperti di atas sudah bukan jamannya lagi dan bahkan harus dikubur dalam-dalam.
Pada perkembangan berikutnya proses pembelajaran harus menyenangkan dan kendali waktu sebagian besar dikuasai peserta didik (student-centered). Maka guru perlu mempersiapkan diri sebelum melakukan proses pembelajaran. Persiapan yang dilakukan guru sebelum menyampaikan materi ajar sangat penting untuk menentukan keberhasilan tersampainya materi ajar pada peserta didik.
Sebenarnya persiapan mengajar seperti ini sudah lama dilakukan oleh seorang calon guru SD (Sekolah Dasar). Ketika saya belajar di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) tahun 1970-an setiap calon guru yang akan praktek mengajar harus mempersiapkan SP (Satuan Pembelajaran). Satuan pembelajaran harus dikonsultasikan dulu kepada guru pembimbing. Dalam konsultasi ini, semua langkah dari pembukaan sampai penutup dibahas satu persatu. Bagaimana metode pembelajaranya, cara membuat TIK (Tujuan Instruksional Khusus). Seorang calon guru merasa bangga kalau dalam sekali konsultasi SP-nya tidak ada koreksinya. Namun setelah jadi guru hal tersebut jarang dilakukan dan bahkan SP atau sekarang dikenal istilah RPP dibuat setahun sekali.
Pentingnya melakukan persiapan sebelum proses pembelajaran ini juga dilakukan di negara Jepang. Namun bedanya,  mereka melakukan secara terus menerus dan bahkan dipraktekkan lebih dahulu dihapan temannya. Sampai saat ini cara tersebut menjadi rujukan pembelajaran di negara lain, itulah yang dikenal dengan istilah Kenkyuu Jugyo atau Lesson Study.
Lesson study masuk ke Indonesia sekitar tahun 2006 melalui proyek JICA (Japan International Corporation Agency) melalui 3 universitas UM, UPI dan UNY. Negara lain pun seperti di Amerika Serikat juga mengembangkan Lesson Study tersebut. Tokoh yang mempopulerkannya adalah Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Kita sebagai negara berkembang perlu sekali melakukan Lesson Study untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini.
            Lesson Study bukan metode pembelajaran atau teori belajar, tetapi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran dalam Lesson Study ini sangat terlihat pada proses perencanaan. Bagaimana seorang guru mendesain proses pembelajaran yang akan dilakukan. Dari berbagai unsur baik materi, metode, media, alat peraga dan kondisi peserta didik serta berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada proses pembelajaran itu dibayangkan, didiskusikan, dipecahkan dan dipraktekkan dulu dihadapan temannya. Semua kekurangan dalam praktek mengajar akan dievaluasi dan dibenahi sehingga betul-betul sempurna dalam implementasinya. Setelah semuanya siap baru seorang guru mempraktekkannya dalam proses pembelajaran. Tidak hanya berhenti diperencanaan (plan) namun dilihat saat mempraktekkannya (do) dan perlu dibahas (refleksi) dan ditindak lanjuti.
Langkah berikutnya setelah Plan adalah Do. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran atau do semua orang boleh mengamatinya. Dalam pengamatan baik dari temannya atau dari pengawas juga siapa saja, para observer tidak boleh menilai bagaimana guru melakukan proses pembelajaran, namun hanya melihat bagaimana fakta aktivitas peserta didik. Para observer mencatat semua aktivitas peserta didik. Catatan itulah yang nanti akan dibahas di proses berikutnya yaitu Se (refleksi)
Pada tahap akhir adalah Se. dalam tahapan ini semua observer memberikan masukan kepada guru model. Pada intinya para observer memberikan fakta semua aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik ketika guru model melakukan pembelajaran. Tidak ada yang menghakimi cara mengajar guru. Yang disampaikan adalah seperti Si Fulan tidak mengerjakan ini. Si B kurang aktif dsb, j adi guru tidak merasa dihakimi atau dinilai oleh temannya. Hal tersebut akan memberikan sikap toleransi yang luar biasa dan membangun rasa percaya diri pad guru model. Dari sinilah perbaikan perbaikan akan disusun demi menyempurnakan proses pembelajaran para guru.
Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk: (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
            Manfaat  yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study.
Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut
Dampak Lesson Study pada PKG (Penilaian Kinerja Guru)
Akhir-akhir ini guru disibukkan untuk mempersiapan diri dinilai oleh asesor. Penilaian merupakan proses untuk meningkatkan kinerja guru yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di negeri yang tercinta ini. Penilaian dilakukan tidak hanya pada saat guru melakukan proses pembelajaran namun diamati aktivitas sehari-hari baik dilingkungan sekolah maupun keluarga dan di masyarakat.
Substansi guru untuk meningkatkan prestasi peserta didik ada pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran dikatakan berhasil jika materi yang deberikan oleh guru tuntas tersampaikan dan dimengerti oleh peserta didik. Maka dari itu Lesson Study inilah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dengan melaksanakan lesson study guru model (gudel) sebitan guru yang melaksanakan LS akan menjadi ahli strategi dalam menyampaikan materi ajar kepada peserta didik. Karena merasa persiapannya sangat matang, maka guru model tersebut dapat menawarkan diri untuk dinilai kenerjanya pada saat melakukan proses pembelajaran. Dengan persiapan atau plan yang matang, maka akan mensukseskan proses pembelajaran. Dengan demikian nilai yang diperoleh Gudel pada saat proses pembelajaran sangat memuaskan.
Mengapa dengan melakukan lesson study nilai kenerja guru (PKG) sangat memuaskan?. Karena seorang guru yang ditunjuk menjadi gudel secara berkolaborasi melakukan perencanaan yang matang dengan temannya. Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study menyusun RPP yang pembelajarannya berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis semua kebutuhan dan permasalahan yang akan muncul saat proses pembelajaran berlangsung, seperti tentang: kompetensi dasar yang dijabarkan menjadi indikator, cara membelajarkan siswa aktif, pemenuhan media dan alat pembelajaran, dan lain-lain, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran.
 Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran. Maka dengan Lesson study seorang guru wajar akan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. 
Dampak Lesson Study pada Karya Tulis Ilmiah.
            Lesson study sangat tepat untuk menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah berupa Penelitian Tindakan Kelas. Mengapa?. Dengan melakukan lesson study tentu sudah melakukan banyak perubahan baik metode dan media pembelajarannya. Dengan mengambil metode yang baru dalam melakukan proses pembelajaran tentu dapat digunakan sebagai awal untuk melakukan sebuah penelitian. Pada prinsipnya lesson study sama dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Keduanya berujung pada perbaikan pembelajaran yang akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
            Ketika kita melakukan perubahan dalam pembelajaran baik itu merubah media, sarana, metode, lingkungan, mungkin pengelolaan dalam pembelajaran maka kita dapat melakukan penelitian apakah perubahan itu berdampak pada prestasi peserta didik. Dari perubahan-perubahan itu kita catat dan kita laporkan sehingga akan menjadi sebuah penelitian tindakan kelas pada siklus pertama. Karena tindakan ini kemungkinan akan berlanjut setelah mengadakan refleksi maka tindakan kedua merupakan siklus kedua pada penelitian tindakan kelas.  Namun hasil refleksi untuk  memperbaiki proses pembelajaran pada siklus ke-dua kita tidak perlu open class pada kelas yang sama. 
Diharapkan dengan melaksanakan lesson study dapat menghasilkan penelitian tindakan kelas yang orisinil. Dengan menghasilkan PTK, maka guru tidak akan susah dalam kenaikan pangkatnya. Berdasarkan Permenpan dan RB no 16 kenaikan pangkat mulai golongan III B harus disertai Publikasi Ilmiah diantaranya PTK atau bisa juga dengan Karya Inovasi.
Seberapa besar angka kredit yang mereka peroleh kalau tidak dapat menghasilkan karya inovasi dan publikasi ilmiah seorang guru tidak akan pernah naik pangkat. Dengan demikian diharapkan seorang guru dapat melakukan Lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Dengan LS dapat dipergunakan untuk membuat Penelitian Tindakan Kelas. Selain itu bisa dibuat juga best practice untuk menambah poin pengembangan keprofesian berkelanjutan
Selamat mencoba jadi guru model.
Oleh:
Edy Siswanto
SMP 1 Karangrejo Magetan

Comments

Popular posts from this blog

PTK

Yahudi ..

GEMA Semesta dari GOTA