PEMBOCOR SOAL DAPAT NILAI 0 ..... BETULKAH?
Hari ini, berita head line di Jawa Pos memuat judul “Pembocor
Soal Dapat Nilao 0”. Terngiang. ingatanku melayang
kembali pada tahun 2006-an. Ketika itu gencar-gencarnya saya mengajak untuk
jujur. Dari guru, anak didik, orang tua dan kepala sekolah ayo kita.....jujuuuuuur!!!!!!!
Ketika ada sinkronisasi dan koordinasi Kepala sekolah di Malang saya juga mengusulkan " kalau ingin jujur satu satunya adalah soal Ujian Nasional dibuat 20 paket, sehingga tidak ada anak yang curang. Tahun berikutnya ternyata usulan itu dikabulkan. Alangkah senangnya hatiku. Sampai temanku dari Pacitan menghubungi saya "Nda usulmu dikabulne"
Tidak hanya berhenti disitu. Jujur butuh keberanian dan menanggung resiko. Suatu ketika ada rapat di Sub Rayon para kepala sepakat membentuk team sukses. Dalam hati pingin walk out, namun karena saya paling muda hanya usul tidak membentuk tim sukses. Usulan saya tidak didengarkan dan saya tidak bisa berkutik apa apa. Namun pada giliran mengirim guru untuk mengerjakan soal, sekolah kami SMPN 1 Takeran tidak mengirimkannya.
Rencana tim sukses tetap berjalan hanya sekolah kami yang tidak menjalakannya. Terjadilah konflik di tingkat pengawas yang bersitegang sehingga pengawas kami tidak diijinkan masuk dan disuruh mengganti yang lunak.
Akhirnya sekolah kami selalu ranking terendah bahkan dari 39 SMPN Negeri di Magetan kami pernah rangking 42. Resiko lainya adalah: pengawas dan atasan selalu berkata "sekolah kok ono sing ora lulus" kata kata itu oleh atasan selalu dilontarkan bahkan masyarakat juga mengatakan "Ojo sekolah no etan kono sebabe ono sing ra lulus". Akhirnya PPDB menurun drastis.
Kejujuran terus saya gelorakan, dengan SMS dsb. SMS berisi apalah artinya harga diri kalau mengorbankan kejujuran. Setiap tahun saya menggalang dengan teman-teman mengajak kejujuran, Setelah selang beberapa tahun ajakan itu direspon oleh beberapa sekolah.
Seandainya ujian jujur saat itu, hasil Ujian Nasional akan berkisar 30-60 anak kita akan gagal.
Ketika kejujuran itu diikuti oleh sekolah lain, ternyata begitu dahsyat tingkat ketidak lulusannya. Sekolah yang paling mencolok tidak lulus adalah SMPN 2 Parang dengan jumlah terbanyak yaitu sekitar 79 an. Peringkat ke-dua SMPN 2 Kawedanan 69 an anak dan SMPN 1 Takeran 40 anak. dan yang lain dibawah 20 an.
Tidak hanya berhenti disitu. Jujur butuh keberanian dan menanggung resiko. Suatu ketika ada rapat di Sub Rayon para kepala sepakat membentuk team sukses. Dalam hati pingin walk out, namun karena saya paling muda hanya usul tidak membentuk tim sukses. Usulan saya tidak didengarkan dan saya tidak bisa berkutik apa apa. Namun pada giliran mengirim guru untuk mengerjakan soal, sekolah kami SMPN 1 Takeran tidak mengirimkannya.
Rencana tim sukses tetap berjalan hanya sekolah kami yang tidak menjalakannya. Terjadilah konflik di tingkat pengawas yang bersitegang sehingga pengawas kami tidak diijinkan masuk dan disuruh mengganti yang lunak.
Akhirnya sekolah kami selalu ranking terendah bahkan dari 39 SMPN Negeri di Magetan kami pernah rangking 42. Resiko lainya adalah: pengawas dan atasan selalu berkata "sekolah kok ono sing ora lulus" kata kata itu oleh atasan selalu dilontarkan bahkan masyarakat juga mengatakan "Ojo sekolah no etan kono sebabe ono sing ra lulus". Akhirnya PPDB menurun drastis.
Kejujuran terus saya gelorakan, dengan SMS dsb. SMS berisi apalah artinya harga diri kalau mengorbankan kejujuran. Setiap tahun saya menggalang dengan teman-teman mengajak kejujuran, Setelah selang beberapa tahun ajakan itu direspon oleh beberapa sekolah.
Seandainya ujian jujur saat itu, hasil Ujian Nasional akan berkisar 30-60 anak kita akan gagal.
Ketika kejujuran itu diikuti oleh sekolah lain, ternyata begitu dahsyat tingkat ketidak lulusannya. Sekolah yang paling mencolok tidak lulus adalah SMPN 2 Parang dengan jumlah terbanyak yaitu sekitar 79 an. Peringkat ke-dua SMPN 2 Kawedanan 69 an anak dan SMPN 1 Takeran 40 anak. dan yang lain dibawah 20 an.
Ketika Ujian Nasional tahun 2008
an dan SOAL sudah 20 paket, ternyata masih bisa curang dengan 20 PAKET kunci jawaban . Luar biasa guru dan kepala seolah berani nekat untuk mencuri soal, seperti Kabupaten Lamongan.
Saat itu juga di negara sebelah didapati kecurangan yang fatal bahkan sudah ditulis deberita acara, ternyata tidak ada efeknya. Yang mestinya anak ini tidak lulus akhirnya tetap lulus. Saya diberi bocoran dan contekanya.
Saat itu juga di negara sebelah didapati kecurangan yang fatal bahkan sudah ditulis deberita acara, ternyata tidak ada efeknya. Yang mestinya anak ini tidak lulus akhirnya tetap lulus. Saya diberi bocoran dan contekanya.
Sungguh terlalu pendidikan di
bumi kita ini. Saya sudah protes ke Kepala DEPAG ketika rapat koordiansi degan Dinas Pendidikan. dan bahkan juga ke Pembina dan
konsultan SSN serta RSBI pusat, beliaunya juga mengatakan percuma pak!!??… Akhirnya
juga kandas....hmmmmm.
Jujur yes Prestasi Oke!!!!!!!
Hebat bupati kita mengajak jujur dan seandainya terpaksa tidak naik dan tidak lulus juga tidak apa-apa......luar biasa Bupati kita KANG WOTO
mohon koreksi kalau jumlah tidak lulus belum cocok.
Hebat bupati kita mengajak jujur dan seandainya terpaksa tidak naik dan tidak lulus juga tidak apa-apa......luar biasa Bupati kita KANG WOTO
mohon koreksi kalau jumlah tidak lulus belum cocok.
Comments
Post a Comment