100 PERSEN DISIPLIN
Dunia ini memang komplit. Ada
yang merah dan ada yang putih. Ada yang nakal ada yang baik dan masih banyak
lainnya yang selalu berlawanan.
Di sekolah pun hukum alam itupun
banyak ragamnya. Dari anak yang rajin sampai anak yang bandel sekali. Dari anak
yang kecil sampai yang bongsor dan dari yang smart juga yang dedel. Pokoknya
unik dan justru perbedaan itu menjadi indah.
Dalam menghadapi aneka ragam
kondisi siswa, saya tidak pernah lelah dan mundur selangkah. Terkadang
ketegasan dalam menegakkan prinsip musti harus dilaksanakan. Tegas berbeda
dengan keras. Tegas itu menegakkan hukum atau aturan yang ada sedangkan keras
bisa keluar dari tata tertib yang ada.
Dalam menegakkan kedisiplin dan
membentuk karakter anak didik di sekolah banyak tantangannya. Bahkan dari orang
dalam, orang tua dan masyarakat pun terkadang membela anaknya tanpa menyaring
masalah yang ada. Banyak kejadian yang pada akhirnya menuntut guru untuk
diadili bahkan berujung pada penjara.
Bagaimana dunia pendidikan
menghadapi problematika tersebut? Ketika saya study banding ke Singapura banyak pelajaran yang dapat dibawa
pulang. Pelajaran pertama yang dapat dilihat adalah bersih dan tertib. Di
pinggiran jalan nampak rindang, asri, dan tertata indah. Dalam tata tertib lalu
lintas juga terlihat santun. Saking tertibnya selama dua hari tidak pernah
mendengarkan bel/klakson mobil.
Hal tersebut bisa berhasil karena mereka takut dengan denda. Siapa saja
yang melanggar aturan akan kena denda, sehingga negara tersebut terkenal dengan
negara
denda atau fine country. Nah bagaimana dengan kita?
Dalam laporan ke Bidang
Ketenagaan Dinas Pendidikan Magetan, saya mengatakan bahwa di Singapura
pendidikannya sangat bagus dan bahkan sangat disiplin. Mengapa kita tidak bisa
melakukannya? Beliau menjawab: ‘Di sana
negaranya kan kecil’, lalu saya menjawab: ‘Lha Magetan kan juga kecil’. Mereka lalu diam dan menggumankan ‘Iya juga ya.’
Dari percakapan tersebut, tetap tidak
ada tindak lanjut untuk perubahan menuju pendidikan berkualitas. Dengan kondisi
demikian akhirnya saya memutuskan untuk menerapkan sebagian oleh-oleh dari
Singapura itu di SMPN 1 Takeran. Oleh-oleh tersebut diantara: fine country menjadi fine
school dan melaksanakan apel pagi pada hari sabtu selain upacara hari
senin.
Hasil dari penerapan fine school
sangat luar biasa. Dari laporan guru banyak manfaat dari fine school, diantaranya: tidak ada yang tidak mengerjakan tugas, tidak
ada yang terlambat, dan ketertiban di lingkungan sekolah semakin meningkat. Alhamdulillah
fine school dapat meningkatkan
kedisiplinan anak didik kita.
Comments
Post a Comment