GURU ITU USTADZ
Oleh:
Drs. Edy Siswanto, M.Pd. SMPN 1 Karangrejo
Ketidak beruntungan yang
menimpa sektor pendidikan, dengan alokasi dana yang masih rendah, dengan ditandai pemberian dana BOS
yang sangat minim menandakan bangsa kita masih belum bijak, adil, dan
nyaman.
Hasil
pendidikan jaman orde baru dengan hiasan pendekatan militer belum tentu
memberikan solusi kenyamanan, namun kenyataannya selama militer berkuasa di
bawah orde baru, menghasilkan kondisi sekarang
yang tidak menentu. Pendidikan pun juga mengabaikan aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni dan olah
raga, serta life skill, sehingga
menghasilkan generasi sekarang yang cenderung bangga ketika berbuat tidak baik.
Mereka justru bangga akan cerita-cerita yang justru melanggar aturan bahkan
mengganggu atau mencelakai orang lain.
Jika nanti kita ingin menikmati hidup dengan
kondisi yang aman dan tenteram serta berkecukupan, sekarang waktunya kita harus
mengemban dan memperhatikan sektor pendidikan. Dengan demikian
peran guru sekarang tidak hanya sebagai fasilitator, namun masih dibebani sebagai profesi Ustad. Guru sebagai ustad tentunya akan
mewarnai pola tingkah laku yang diemban untuk membentuk budi pekerti siswa,
sehingga sekolah diposisikan sebagai pondok,
dan siswa berperan sebagai santri.
Implementasi
Guru Sebagai Ustadz
Bagaimana implementasinya?. Guru
tidak kemana-mana, tetapi berada dimana-mana. Untuk mempercepat tujuan
membentuk manusia bermoral
bagus, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur, bisa kita integrasikan di
setiap pelajaran, namun juga bisa menjadi satu paket mata pelajaran. Sebaiknya
kita perlu belajar ke pondok pesantren. Selain aspek kognitif serta ketrampilan
juga sikap/afektif mereka relatif berhasil.
Guru
sebagai ustad dituntut harus bisa memberikan nasihat/kultum (kulia tujuh menit)
atau kulim (kuliah lima menit) di awal pelajaran. Kalau semua guru bertindak
demikian, ranah afektif secara umum akan mudah dan cepat tercapai. Kultum/kulim
bisa dilakukan sebagai pemanasan yang tidak
memakan waktu
lama, namun dampaknya di kelak kemudian hari generasi itu akan tidak membuat
masalah dan bahkan akan memecahkan masalah. Tidak seperti sekarang ini yang
cenderung membuat masalah, karena kurangnya perhatian dan pekerjaan, sambil
mencari jati diri yang kurang pasti.
Sebagai
ustad guru tidak mesti harus menyampaikan ayat Alquran atau Hadis dsb, namun
semua aspek kehidupan dari yang paling sederhana, mungkin
pengalaman hidup pun bisa kita sampaikan, seperti kalau mau pergi harus
berpamitan dan cium tangan sebelum berangkat, cuci tangan sebelum makan, berdoa
sebelum mulai belajar dsb, sehingga tidak akan kekurangan materi khotbah.
Sedangkan Alquran dan Hadits yang dijadikan sebagai rujukan kulim/kultum
memang perlu untuk memantapkan ilmu yang
kita berikan. Ada hadis mengatakan “sampaikan
walaupun hanya satu ayat”
Dalam
kehidupan manusia, kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab untuk memberikan masukan/kritik
dan nasehat bahkan sanksi bilamana perlu, apabila kita melihat pelanggaran atau
kesalahan. Tidak hanya sangsi namun hadiah atau reward itu pun harus kita lakukan. Kita sebagai pendidik setiap
hari berhadapan dengan generasi yang perlu sekali butuh perhatian dan
pendidikan, sehingga diharapkan generasi ini bisa berkualitas baik serta bisa
bersaing dengan yang lain tidak hanya dirumah sendiri, tetapi di manca negara
pun jadi.
Pendidikan
Bukan Mengelola Barang Mati
Dunia pendidikan bukan mempersiapkan
barang yang dengan waktu relatif singkat bisa
diubah, namun berupa tunas bangsa atau generasi muda sebagai investasi yang
harus kita kemas sehingga menjadi manusia berakhlak mulia, berbudi pekerti
luhur, berseni tinggi, berolah raga yang bermental juara, mampunyai life
skill unggul, serta berilmu dan berteknologi yang mumpuni.
Kalau sekolah sudah terkondisikan
seperti pondok dan siswanya sebagai santri serta gurunya juga sebagai ustad dan
ustadhah, alangkah indah dan nyamannya sekolah tersebut. Kalau demikian
kondisinya, pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional akan segera tercapai. KBK
(Kurikulun Berbasis Kompetensi) menargetkan keberhasilan ketiga aspek kognitif,
afektif dan psikomotor yang terukur, sehingga pundak guru bertambah komplek bebannya. Dari
sinilah pendidikan itu mulai bicara, bukan hanya pengajaran yang sementara ini
kebanyakan kita implementasikan. Anda dituntut berperan sebagai, pelayan,
artis, ilmuwan, olah ragawan, seniman, hakim, ustad dll.
Banyak tugas yang harus dilakukan
oleh guru sehingga diharapkan adanya banyak studi banding keberbagai sekolah
dan bahkan pondok pesantren untuk menambah ilmu dan pengalaman untuk diterapkan
di sekolahnya masing-masing. Bagaimana bisa menjadi guru juga ustad yang
mumpuni kalau tidak pernah mau belajar dan mendalami serta mempraktekkannya
bersama siswanya?
Ada
pengalaman yang menarik ketika berkunjung di Pondok Gontor Ponorogo. Bahkan
sangat banyak pengalaman untuk diceritakan. Intinya disini (Pondok Gontor)
belajar itu 200%. 100% untuk belajar
agama dan yang 100% untuk pendidikan umum. Jadi berbeda jauh. Di sekolah umum belajar itu hanya 100%. Pendidikan umum 95 % dan
agamanya hanya 15%.
Kapan kita akan mengejar ketinggalan...!!!!??. Hanya di hati para pemimpin dan guru masing-masing.
Kapan kita akan mengejar ketinggalan...!!!!??. Hanya di hati para pemimpin dan guru masing-masing.
Comments
Post a Comment