SUDAHKAH ANAK DIDIK KITA BEKALI BERBAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
Cuplikan Pengalaman
Mendalam yang Tak Terlupakan.
Oleh: Edy Siswanto.
Mendalam yang Tak Terlupakan.
Oleh: Edy Siswanto.
Ketika
penulis masih belajar di IKIP Yogyakarta (UNY) ada pengalaman yang tidak
bisa terlupakan dan bahkan membuat penulis berubah.
Pada waktu itu penulis akan minta
persetujuan ke dekan Bhs. Inggris berapa jumlah mata kuliah yang akan diambil.
Sialnya baru kali pertama dalam hidup saya
menemui dosen yang sangat teliti dengan penggunaan bahasa yang baik dan
benar.
Pada saat minta tanda tangan, sudah biasa penulis langsung ketok pintu dan mengucap salam. Beliau mempersilahkan masuk, setelah penulis masuk
langsung mengucapkan “Pak Minta Tanda Tangan” kemudian pak Dosen mempersilahkan
duduk. Awal pembukaannya saudara dari mana? Saya jawab dari Magetan, Jawa Timur. Langsung dia bilang “la
layak ndak tahu bahasa yang baik dan benar”, dan masih banyak lagi yang lainnya
sampai entek amek kurang golek, sampai ditatar P 4 segala, pertemuan itu makan waktu hampir satu jam untuk
memberikan pencerahan tentang tata krama perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dan
sejak kejadian itu, aku tidak pernah meninggalkan nasehat yang sangat berharga itu dimana betada.
Dengan perasaan agak dongkol saya
pamit dan saya cerita sama teman-teman kalau jumpa dosen ini, anda harus bilang
“pak maafkan mengganggu sebentar,
bolehkah saya minta tanda tangan.? ”
Berbahasa baik dan benar dalam dunia
pendidikan, nampaknya masih jauh dari kenyataan dan harapan. Bukti yang jelas
anak didik kita, banyak yang belum menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan guru Bahasa Indonesiapun mungkin juga demikian.
Kita
sebagai guru apalagi yang memegang mata pelajaran bahasa Indonesia harus betul mengimplementasikan
di sekolah sedini mungkin dari rumah, TK sampai Perguruan tinggi. Peran sekolah
yang serentak dan saling bekerja sama,
kemungkinan generasi kita akan terbiasa berkata :”maaf mengganggu sebentar,
bolehkah saya (kami) …dsb sebagai pembuka bicara, sehingga akan membuat
kesejukan dalam berkomunikasi. Boleh jadi walaupun yang diajak bicara dalam
keadaan marah atau sibuk, mereka akan tidak jadi marah karena tersiram
kesejukan kalimat itu, sehingga menimbulkan komunikasi hangat yang penuh kekeluargaan.
Penggunaan berbahasa yang baik dan
benar saat ini mulai kita rasakan pada kantor-kantor publik yang melayani
pelanggan, juga pada selles yang berkeliaran di kota dan di desa-desa. Mereka selalu
mengawali ucapan dengan “Pak/Buk/mbak
maaf mengganggu… “dsb. sedangkan di kantor-kantor di swalayan/supermarket
selalu dibuka dengan “senyum yang arkhais”
dan disertai sapaan pembuka “silakan
duduk” atau “apa yang dapat saya bantu” dan seterusnya.
Tidak semua anak melanjutkan ke
jenjang sekolah yang lebih tinggi. Maka perlu sekali kita memberikan pendidikan
tidak hanya sekedar teori saja. Kita memang tearkenal dengan negara teori. Untuk
praktek sangat jauh dai harapan. Akhirnya kita semua belajar lagi setelah
terjun di masyarakat. Dan ternyata ilmu di sekolah banyak yang tidak cocok
dengan kehidupan sehari-hari.
Dunia pendidikan akan terasa dan
berguna, jika anak sudah tidak lagi melanjukan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi. Ternyata hanya kompetensi dasar tertentu yang dapat diimplementasikan
dalam hidup sehari-hari. Maka seorang guru harus koplit ilmunya dan harus memberikan semuanya kepada anak didik semata anaknya sendiri. Disinilah pentingnya pendidikan hidup, untuk dapat hidup sukses
di dunia.
Pendidik itu memang berat. Tidak hanya
mengajarkan ilmu yang ada dalam kurikulum dengan target tertentu, tetapi dunia
luar yang lebih luas, liar dan menantang
itulah yang harus ditaklukkan pendidik jaman sekarang, Mereka harus mempersiapkan anak didiknya
supaya bisa menguasai ilmu dan teknologi untuk bekal hidup di dunia dan
akherat.
Mohon maaf tulisan di blog ini hasil dari Aplikasi merubah suara jadi tulisan.
Mohon maaf tulisan di blog ini hasil dari Aplikasi merubah suara jadi tulisan.
Comments
Post a Comment