Cuplikan Khotbah Idul Fitri Pertama

Membangun Kecerdasan Emosional melalui Puasa di bulan Romadhon
  Di Masjid Firdaus Madiun
Edy Siswanto

Ma'asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas segala rahmat dan karunianya, yang telah dilimpahkan kepada kita semua sehingga pada pagi hari ini kita bersama dapat duduk bersimpuh mengucapkan Takbir Tahmid Tasbih dan Tahlil sebagai perwujudan dari rasa syukur kita menyelesaikan ibadah puasa pada bulan suci Romadhon.
Di hari ini kita memasuki hari yang penuh dengan kebahagiaan rohani jasmani dan kenikmatan spiritual sejalan dengan firman Allah di dalam Alquran artinya “Dan hendaknya kamu mengucapkan bilangannya dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-nya yang diberikan kepadamu niscaya kamu bersyukur”.  Quran surah al-baqarah ayat 185.
Ibadah puasa di bulan suci Ramadan yang baru saja kita laksanakan sesungguhnya adalah suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dengan kesinambungan bagi orang-orang yang beriman yang menghantarkan pada puncak nilai-nilai kemanusiaan yang disebut dengan takwa. Takwa Inilah penyebab utama kemuliaan, kebahagiaan dan kesejahteraan.
Firman Allah dan dalam al-quran yang artinya: ”wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa Dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha mengenal” Quran surat Al Hujurat ayat 13. Di dalam Al Quran surat al-a'raf ayat 96, yang artinya “jikalau sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertakwa pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”
Hadirin jamaah salat idulfitri rohimakumullah ada beberapa hal yang penting ditumbuhkan melalui latihan-latihan selama ibadah di bulan suci Romadhon yang merupakan penyebab penyebab utama ketakwaan pertama menumbuhkan “kecerdasan emosional”.
Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri dalam merespon berbagai macam keadaan. Pengendalian diri ketika mencintai dan membenci sesuatu supaya tidak berlebih-lebihan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh: Imam Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:  “Cintailah sesuatu itu (orang yang kamu cinta) secara sederhana, karena boleh jadi engkau akan membencinya pada suatu ketika, dan bencilah sesuatu itu (orang yang kamu benci) secara sederhana, karena boleh jadi engkau akan cinta padanya suatu ketika”
 Hadis riwayat Tirmidzi diri ketika berhadapan dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita atau mungkin berseberangan dengan kita untuk tetap menganggap mereka sebagai saudara sesama Muslim atau sesama anak bangsa bahkan dengan sikap ini diharapkan budaya saling memaafkan akan tumbuh dan berkembang dengan baik
      Pengendalian diri ketika berhadapan dengan orang-orang yang berbeda atau berseberang pendapat dengan kita, sudilah kita tetap menganggap mereka sebagai saudara sesama muslim atau sesam anak bangsa. Bahkan dengan sikap ini diharapkan ada budaya saling memaafkan akan tumbuh dan berkembang dengan baik.
          Kecerdasan emosi semacam ini akan mengikis sifat saling dengki-mendengki antara sesama muslim, antara suku dan etnis bahkan antara pemeluk agama yang berbeda,
Dengan kecerdasan diharapkan kita dapat melaksanakan tiga hal yang disebut dengan “Afdlolul Fadloil” (perbuatan yang paling utama diantara yang utama yaitu:

  •  Bersilaturrohmi dengan orang yang memutuskannya,
  •   Memberi pada orang yang tidak pernah memberi.
  •   Memaafkan orang yang berlaku kurang baik kepada kita. (HR. Imam Thobroni dari Mu’adz Bin Jabal)
   Dengan hari raya Idul Fitri ini mari kita berkaca diri, kesalahan apa yang telah kita perbuat untuk kita perbaiki  pribadi diri dikemudian hari.
   Mari kita para guru untuk menanamkan perilaku sosial keagamaan yang berporos pada kecerdasan emosional.
Janganlah berebut kebenaran, karena disitu tidak akan menemukan kebenaran yang universal. Marilah kita berebut keslahan mak akan muncul kebenaran.
    Semoga ringkasan ini bermanfaat bagi kita semua
    
      Bersambung.

Comments

Popular posts from this blog

PTK

Yahudi ..

GEMA Semesta dari GOTA