MENGGAGAS SEKOLAH SISTEM ZONASI POTENSI
MIMPI SISTEM ZONASI POTENSI
Zonasi potensi, ini baru hebat. dulu ada PBKL sekarang ada branding. Substansinya sama sama merawat dan melayani anak yang betul-betul
mempunya bakat yang sama. Contohnya ada SMANOR. Anak yang ada di
sekolah ini memang betul hebat dibidang olah raga. Dia tidak akan dapat masuk
sekolah ini kalau tidak mempunyai kehebatan dibidangnya.
Kalau kita menganut sistim ini, berarti sekolah menghargai
manusia. Dengan menghargai dan melayani anak yang berbakat, akan menghasilkan
lulusan yang professional. Coba kita mengingat kebelakang. Zaman dulu ada ST,
SMEP, SMEA, SPG, SGO, PGA yang lulusannya dapat dihandalkan. Seandainya kita rela anak setingkat
SMP disuruh kerja mereka sudah siap kerja. Namun akhirnya narasi yang dibangun
adalah tidak manusiawi kalau anak di bawah umur harus bekerja. Akhirnya sekolah
itu dibubarkan. Disulap menjadai SMP semuanya.
Apakah sekarang ini kita malu untuk kembali ke zaman
dulu. Memakai zona potensi. Sistim ini akan melahirkan sekolah seni, sekolah
ketrampilan, sekolah olah raga, sekolah wirausaha, sekolah kulit, sekolah
pertanian, sekolah pertamanan, sekolah perhotelan, sekolah perikanan, dll dan
yang standard adalah sekolah menengah pertama (SMP).
Sistim zonasi ini tidak butuh kelas yang banyak. Cukup
dibatasi 2 kelas atau hanya satu kelas. Tapi penangananya luar biasa harus profesional. Lulusannya sudah cukup untuk
bekal hidup, namun harus meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Bekerja
sambil sekolah inilah merupakan pendalaman untuk meningkatkan pengetahuan dan
ketrampilan demi suksesnya potensi yang mereka miliki. Jadi sistim zonasi
potensi adalah mempersiapkan generasi Indonesia menjadi ahli kerja bukan ahli
bicara.
Mengapa harus berdarah-darah kuliah tapi akhirnya
banyak yang nganggur. Apakah tidak lebih hebat lulusan sekolah menengah pertanian
akhirnya dapat bertani dan dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Itu baru sistim zonasi hebat yaitu berdasarkan
potensi. Bukan seperti sekarang hanya karena jarak, anak didik tidak boleh
terbang menikmati sekolah yang sesuai dengan potensinya. Akhirnya ada anak yang
rela bunuh diri karena tidak bisa bersaing sesama anak berprestasi dan harga diri.
Hmm mau dikemakan pendidikan kita ini.
Comments
Post a Comment