ZONASI PERLU DICERMATI



Oleh: Edy Siswanto

SMPN 1 Karangrejo Magetan


Sangat luar biasa pengebirian orang swasta terhadap sekolah negeri. Mereka tidak rela anak hegeri jadi pandai. Dengan sistem zonasi akhirnya sekolah negeri tidak akan mengungguli sekolah swata.

Masih ingat Sekolah Berstandar Internasiaonal (SBI) atau RSBI. Mengapa dilarang hidup di Indonesia, dan sekarang ada zonasi. Itulah keirian swasta di negeri ini. Mau dibawa kemana sekolah negeri ini. Sekolah dilarang berbeda. Biarlah sekolah swasta yang menjulang tinggi dan sekolah negeri dilarang pandai.  Artinya Anak Indonesia dilarang pandai. Kalau tidak pandai tidak akan menjadi pemimpin di negeri ini dan akan mudah untuk dikuasai.


Dengan adanya zonasi banyak anak kita yang pandai putus asa, karena tidak masuk di sekolah yang diminati. Bahkan ada anak di Blitar rela mati karena takut tidak masuk sekolah yang diidolakannya. Mengapa sekolah kita tidak boleh melayani semua talenta anak negeri ini. Mengapa harus sama? Mengapa yang hobi music harus disamakan dengan yang haby matematika? Mengapa yang senang olah raga harus bareng dengan yang pintar bahasa? Ini bukti kita tidak dapat menghargai kodrat Illahi yang memberi keahlian masing-masing generasi di negeri ini.


Saat ini kita digiring dengan narasi bahwa sistim zonasi berbaur keindahan dan keadilan. Namun dibalik itu justru mengebiri sekolah negeri. Akankah sekolah ini sama rasa dan sama rata. Akankan sekolah di negeri ini nanti tidak ada yang maju. Karena semua sekolah terasa sama kualitasnya.

Jadi yang ahli dalam matematika dia harus rela menunggu yang lain untuk mengejar ketinggalannya. Sedangkan yang larinya cepat harus menunggu pula dilintasan akhir untuk berlari bersama.

Apakah tidak indah kalau yang pintar akademis biar bersaing di akademis. Sedangkan yang hoby olah raga biar mereka saling berlomba untuk memperoleh juara. Biarkan bakat lainnya juga akan terpenuhi sesuai dengan kebutuhanya masing-masing.


Guru kita saat ini belum adil. Mereka sibuk dengan anak yang bermasalah. Mereka direpotkan dengan bagaimana meningkatkan anak didik yang belum tuntas. Mereka selalu sayang dan perhatian dengan anak yang kekurangan. Terkadang rela menambah nilai tanpa realita. Perhatian itu dibuktikan dengan selalu memberi remidi kepada anak didiknya yang kekurangan. Namun lupa dengan anak yang pintar, anak yang berbakat.


Anak yang pintar atau berbakat justru menjadi pembantu guru dalam pembelajarannya. Yang lebih parah lagi anak disuruh membantu temannya, ee gurunya belajar sendiri atau CTL (catat tinggal lungo). Membantu teman itu baik, namun akan lebih baik kalau dirinya semakin hebat dan juga temannya terimbas kehebatannya.
Akhirnya mereka yang pintar tersandra ilmunya dan belum mendapatkan tambahan untuk nambah kehebatannya. Mereka terkadang bosan melihat gurunya yang selalu memberikan materi dengan standard anak yang biasa. Mestinya anak yang super harus mendapatkan pengayaan yang lebih super. Kalao anak hero menjadi hero itu rugi. Mestinya anak hero menjadi anak yang super hero. Dengan belum terlayaninya anak berbakat, maka sistim zonasi perlu dicermati kalau perlu harus berhenti. 


Apakah itu tidak lebih manusiawi? menghargai yang berbeda.  Itulah substansi hidup ini. Sesuai kodrat Illahi Kalau terus begini, sekolah negeri akan dikebiri dan sekolah swasta akan merajalela.




Comments

Popular posts from this blog

PTK

Yahudi ..

Tidur