GURU ITU PENONTON
Oleh: edy siswanto.
Sekolah itu tempat mencari ilmu. Semua
makhuk yang ada di sekolah merupakan pembelajaran bagi semua warganya. Anak
didik merupakan centra untuk tumbuh kembangnya generasi mendatang. Maka semua
komponen sekolah menjadi sumber dari segala sumber pembelajaran untuk anak
bangsa. Di sekolah ada benda yang bergerak dan juga tidak bergerak. Yang tidak
bergerak perlu dirawat dan diperbaiki. Sedang yang bergerak perlu ditumbuh kembangkan
untuk lebih artistic dan menerik.
Semua makhuk yang
ada menjadi aset pembelajaran untuk generasi kita. Contoh gedung yang indah,
kokoh serta nyaman ditempati merupakan pembelajaran untuk anak bangsa. Gedung
yang kokoh menjadi inspirasi anak akan terbentuknya karakter kokoh , tegar dan
tidak pernah menyerah.
Lingkungan yang
asri, bersih dan nyaman ditempati akan membentuk pribadi yang peka dengan
kebersihan dan keindahan . Sehingga hidup dimananpun akan menjadi agen bersih diri
dan keindahan lingkungannya.
Namun yang satu
ini akan menjadi bencana bagi anak bangsa. Apa itu? Guru tentunya. Guru merupakan
makhluk kemungkinan. Dapat berpengaruh negative juga positif. Ambil contoh
kecil. Guru merokok akan menjadi pengalaman anak untuk belajar memilih. Ada yang
milih diam. Ada yang menolak dan juga ada yang mencoba-coba.
Ada juga guru yang hanya menjadi penonton.
Mereka hanya melihat kegiatan yang ada di sekolah. Mereka pasif tidak proaktif.
Inipun akan menjadi bahan pelajaran bagi yang melihanya. Sikap anak akan juga
terbelah ada yang memilih negative yang berarti mengikuti jejak jadi penonton. Dan
ada juga yang mengambil segi positif dengan mengikuti kegiatan yang ada. Penonton
terbiasa mencari teman untuk menggalang
suara oposan dan yang paling parah mengganggu jalannya roda pemerintahan sekolah.
Guru itu penonton akan menelorkan generasi pasif dan kontra peoduktif. Generasi
ini tidak akan menjadi pemenang. generasi ini tidak akan menjadi pemain.
generasi ini hanya menjadi beban bagi lingkungan yang akan maju.
Guru itu penonton karena
tidak mau terlibat di dalam kegiatan. Mereka lebih baik diam daripada
merepotkan diri. Dia merasa seperti ini saja dapat hidup dan menerima gaji. Mereka
bagaikan “pohon lapuk tak berbuah” Guru di zona ini tidak repot, tidak mau mengambil resiko. Akhirnya
jadilah penonton yang baik.
Itulah profil guru sebagai penonton
Comments
Post a Comment