Guru Itu Pelit
Edy Siswanto
SMPN 1 Karangrejo Magetan
Mengapa Guru Pelit?
SMPN 1 Karangrejo Magetan
Mengapa Guru Pelit?
Pelit adalah orang yang tidak mau memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkannya. Namun pelit di sini adalah guru yang tidak mau memberi tuntunan dan tontonan kepada anak didiknya. Bahkan ada sebagian guru yang mempunyai keahlian khusus, namun belum menularkan kepada anak didiknya. Memang sebagian besar guru kita masih “peliiiit..”
Kehidupan di sekolah tidak ubahnya keluarga di rumah tangga. Ada orang tua atau guru, ada anak didik dan ada orang lain yaitu tenaga non kependidikan (karyawan tata uasaha). Orang tua di rumah selalu memberikan pengawasan dan suri tauladan serta pembelajaran kepada buah hatinya. Orang tua selalu memberikan saran dan peringatan ketika melihat buah hatinya melakukan pelanggaran atau kesalahan. Hal itu dilakukan setiap saat dan terus menerus sehingga anaknya tidak akan melakukan kesalahan atau melanggar aturan baik yang disepakati keluarga maupun tidak.
Berilah Tuntunan
Guru seharusnya juga berperan sebagai orang tua di sekolah. Kewajiban mereka sama dengan orang tua di rumah. Mereka harus memberikan tuntunan dan tontonan kepada anak didiknya. Tuntunan berarti memberikan pembelajaran serta peringatan ketika melihat anak didiknya melakukan kesalahan atau pelanggaran peraturan sekolah maupun norma yang ada. Perlakuan guru terhadap anak didiknya bagaikan mendidik anaknya sendiri. Kalau hal itu terjadi luar biasa anak didik kita dan juga guru kita. Sedangkan tontonan adalah guru harus memberikan contoh atau suri tauladan kepada anak didiknya. Tontonan inilah yang paling berat dalam mendidik anak didik kita. MemberI contoh disegala bidang memang berat, namun itu harus dilakukan. Memberi contoh berpakaian, beribadah, berdisiplin, bertanggung jawab, kreatif, jujur, visioner, adil, selalu positif thingking, sabar, santun, suka beramal, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kenyataan yang ada, sebagian besar guru masih hanya sebatas memberikan ilmu di ruang kelas selesailah sudah. Kondisi itu sangat terasa ketika guru belum mendapatkan Tunjangan Profesi Pendidik. (TPP). Mereka mengajar di ruang kelas dan selebihnya pulang. Mereka tidak memperhatikan bagaimana etika dan sopan santun serta perilaku anak didiknya di luar kelas. Mereka sibuk mencari tambahan nafkah dengan menebalkan uang sakunya di luar. Ada yang menjadi tukang ojek, ada yang bertani, beternak juga dagang serta jual jasa dan mejadi perantara atau makelar juga aktif memberi les di luar sekolah dsb.
Sudah Pelit Kejam Lagi
Sangat kejam guru itu! Mengapa?
@ Karena belum menyentuh sampai ke ranah pendidikan afektif.
@ Karena belum memberi peringatan ketika anak didiknya melanggar peraturan.
@ Karena belum memberi contoh keteladanan.
@ Bahkan ikut-ikutan tidak disiplin, sehingga guru itu selain kejam juga “pelit”.
Sekali lagi pelit bukan chetil bin kikir, namun pelit dalam membina akhlak mulia anak didiknya. Kepelitan itu diantarnya: pelit dalam mengajak sholat, pelit dalam memberi pesan kepada anak didiknya, pelit dalam memberi teguran kepada anak didiknya, pelit dalam memberi sangsi, pelit dalam menegur anak apabila berbuat salah, pelit dalam berkomuikasi, pelit dalam bercanda dengan anak didiknya, pelit untuk tidak mau duduk bersama dengan anak didiknya, pelit dalam memberi tambahan materi pelajaran, pelit dalam memberi suri tauladan dan berbagei pelit yg lainnya.
Seandainya guru itu tidak pelit, maka setiap saat guru akan melayani anak didiknya layaknya harapan dan impian orang tua terhadap anaknya sendiri.
Masih pantaskah kita disebut guru????
Comments
Post a Comment