ESEM BUPATI, LIRIK BEKEL, DAN DUPAK KULI


Edy Siswanto
SMPN 1 Karangrejo Magetan

Dunia anak memang banyak sekali perbedaannya. Setiap anak membawa karakter yang berbeda. Hal itu dapat dipengaruhi dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Setelah berkumpul di sekolah mereka membentuk kelompok kecil yang sepaham dan cenderung bekarakter sama. Mereka menjadi kelompok-kelompok kecil yang mempunyai kegiatan dan tempat yang sama. Kelompok itu sering bekerja sama dan duduknyapun ada kecenderungan untuk selalu berdekatan. Semisal mereka melakukan sholat jamaah di sekolah, mereka juga berdekatan. Mereka lebih nyaman ketika bersama dengan teman-teman yang sepaham.
Ketika masyarakat kecil itu melakukan aktifitas yang positif, maka teman dan kelompok lain dan bahkan gurunyapun akan memberikan apresiasi yang baik. Apresiasi itu bisa berupa tugas untuk menjadi pembimbingan teman sebaya kelompok lainnya. Mereka akan lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan membantu teman. Baik berupa kesulitan belajar maupun mengajak temannya untuk berperilaku yang baik di sekolah.
Dalam menghadapi kelompok di sekolah, para guru akan memberikan pembimbingan yang berbeda pula. Bahkan setiap anak didik  harus mendapatkan perlakuan yang berbeda. Jaman dulu kita kenal istilah: “Esem Bupati, Lirik bekel dan Dupak Kuli”. 
Maksud dari Istilah itu adalah memberikan peringatan atau pembinaan itu harus tahu siapa yang dihadapi. Ketika menghadapi anak atau kelompok yang cerdas cukup hanya dengan diesemi atau tersenyum saja sudah tahu maksudnya. Senyum, membuat mereka memperbaiki kekurangan dan melaksanakan apa yang dimintai oleh atasannya. Contohnya anak yang tidak memakai sragam lengkap terkadang belum diesemi sudah minta maaf.
 Sedangkan yang mental bekel, senyum belum faham artinya. Mereka harus di lirik untuk tahu maksudnya. Sehingga kelompok ini harus sedikit ditunjukkan kekurangannya. Contoh sepatunya ada corak putih, sang anak perlu dilirik sepatunya baru tahu kekurangannya. Sehingga baru berucap: “terima kasih saya sudah dilirik” atau diingatkan.
Berbeda dengan yang bermental kuli. Kuli itu pekerja kasar. Jika menghadapinya sering harus bersuara keras. Itu baru suara. Belum lagi harus ditunjukkan kesalahannya dengan kasar pula. Terkadang harus keluar kata-kata yang kurang pantas. Kuli harus dibentak untuk menunjukkan kesalahannya. Bentakan itu saja terkadang masih akan menghindar. Mereka banyak alasan untuk menutupi kekurangan. Bahkan dengan berbagai alasan tidak mau mengakui kesalahannya. Baru di dupak itulah mereka menjalankan tugasnya.
Itulah tiga strata pemahaman anak dalam menangkap sebuah kehidupan. Tidak hanya anak tapi semua manusia.




Comments

Popular posts from this blog

PTK

Yahudi ..

GEMA Semesta dari GOTA