Didiklah anak sesuai dengan zamannya
Dengan bergulirnya perkembangan teknologi yang begitu cepat,
maka anak SMPN 1 Karangrejo tidak mau ketinggalan kereta. Kita sebagai orang
tua di sekolah harus tanggap untuk mengikuti perkembangan zaman. Salah
satu tanggung jawab kita yang harus diberikan pendidik kepada mereka adalah
pola asuh yang tepat untuk kesuksesan di masa mendatang. Salah satunya adalah pembentukan
karakter anak. Hal ini sesuai dengan konsep islam yang tercantum dalam Hadist
yang diriwayatkan Abu Hurairah R.A “Rosululloh SAW bersabda: ”Barang siapa
tidak mengasihi (anaknya), maka dia tidak akan dikasihi (anaknya)”. Dalam
konteks yang lebih luas, Hadits tersebut dapat diartikan bahwa apabila kita
menginginkan anak yang berkarakter pengasih, maka harus dimulai dari orangtua
yang selalu mengasihi dan menyayangi anak-anaknya.
Maka kita sebagai pendidik harus mengetahui apa yang harus
kita berikan kepada mereka sesuai dengan perkembangan zamannya.
Dalam islam terdapat sebuah metode parenting yang tepat utuk
mendidik anak berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist yaitu mendidik anak ala “ Ali
bin Abi Thalib R.A”. Ali bin Abi Thalib R.A. adalah salah-satu sahabat nabi
(khulafaur rasyidin), sepupu, sekaligus menantu Rasulullah Sallallahu’ Alaihi
Wasalam (suami dari anak beliau Fatimah Az-Zahra).
Quote yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib, RA adalah:
“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup
bukan di jamanmu”. Dari quote ini saja ternyata dalam Islam juga diajarkan
untuk mendidik anak sesuai zamanya, tidak otoriter sesuai yang dianut oleh
orang tua zaman dahulu, perlu penyesuaian di sana-sini.
Kemudian apa saja prinsip dari parenting Ali bin Abi Thalib
Ini ya?
Ada 3 pengelompokan dalam memperlakukan anak, yang
disesuaikan dengan usia:
Menurut Ali bin Abi Thalib Ra. ada tiga pengelompokkan dalam
cara memperlakukan anak:
1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak
sebagai raja.
2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak
sebagai tawanan.
3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak
sebagai sahabat.
ANAK SEBAGAI RAJA (Usia 0-7 tahun)
Melayani anak dibawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan
tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap
hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan
prilakunya, misalnya :
>> Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat
ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka
ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
>>Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia
tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita
saat kita kelelahan atau sakit.
>> Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia
melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu
menahan emosinya ketika adik/ temannya melakukan kesalahan padanya.
Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani
dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan
tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab.
Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan
mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.
Maka intinya adalah pada tahap ini anak belajar dari sikap
kita kepadanya, jika kita lembut kepadanya maka ia akan tumbuh menjadi orang
yang lembut. Lembut disini bukan berarti kita memanjakan tapi kita tetap tegas
mengenai hal-hal yang baik dan tidak untuknya.
ANAK SEBAGAI TAWANAN (usia 8-14 tahun)
Kenapa sebagai tawanan? Karena kedudukan tawanan dalam Islam
sangatlah terhormat, ia mendapatkan haknya secara proporsional namun juga
dikenakan berbagai larangan serta kewajiban.
Inilah dimana saatnya anak mengetahui hak dan kewajibannya,
tentang akidah dan hukum agama baik yang diwajibkan maupun yang dilarang.
Hal-hal tersebut diantaranya: mengerjakan sholat 5 waktu, memakai pakaian yang
bersih, rapi, dan menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis,
membiasakan membaca AlQur’an, serta membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan
kemampuan anak seusia ini. Pada tahap ini anak juga mulai menerapkan
kedisiplinan sehari-hari dengan system reward dan punishment. Hal ini penting
dilakukan di tahap ini karena anak sudah mulai mengerti arti tanggung jawab dan
konsekuensi tentang suatu hal.
ANAK SEBAGAI SAHABAT (usia 15-21 tahun)
Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil
baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan
memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi
Thalib Ra.
>> Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat
untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja
dan beranjak dewasa.
Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik,
Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan
lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya.
Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun
kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah
memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta
pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
>> Memberi ruang lebih Setelah memasuki usia akil
baliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap
dalam pengawasan kita.
Controlling atau pengawasan tetap harus dilakukan tanpa
bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdoa untuk kebaikan dan
keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai,
dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai
kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi
perilaku buruk.
>> Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu
usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih
berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi
pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti
memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa
dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola
kuangannya sendiri
>> Membekali anak dengan keahlian hidup.
Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda,
berenang dan memanah” (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslm) Secara
harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat
baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula
diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara).
Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan
agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai
melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.
Di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist
diatas sebagai berikut :
>Berkuda = Skill of Life, memberi keterampilan atau
keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan
dan pengendalian diri yang baik.
> Berenang = Survival of Life , mendidik anak
agar selalu bersmangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi
masalah.
> Memanah = Thinking of Life, mengajarkan anak
untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan
target hidupnya.
Dengan menjadikannya seperti sahabat, anak akan merasa nyaman
berbagi tentang hal apapun, ia tidak akan merasa takut akan dihakimi tentang
permasalahannya karena ia memiliki tempat terbaik untuk berdiskusi dalam segala
hal. Tentunya kita tidak ingin anak justru salah mendapatkan pengertian tentang
hal-hal tertentu bukan?.
Indah sekali ternyata membaca Parenting ala Ali RA ini,
ternyata hal-hal seperti parenting ini juga telah dibahas dalam Islam.
Comments
Post a Comment