SEKOLAH BERNUANSA PONDOK PESANTREN SALAH SATU JAWABAN MASA DEPAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN MAGETAN
Genderang
sudah mulai ditabuh. Setelah disibukkan dengan ujian nasional, para guru mulai
kerja keras lagi untuk mencari murid demi langgengnya TPP. Mereka berani mengeluarkan
uang hanya untuk menarik peserta didik baru untuk mendaftar di sekolahnya.
Persaingan
antar sekolah sudah samakin kejam. Mereka terkadang tidak mau berempati. Mereka
saling serobot mengambil jatah orang lain. Hal itu dilakukan karena hanya untuk
mempertahankan yang namanya TPP (Tunjangan Profesi Pendidik). Namun setelah
peserta didik masuk sekolah, kondisi dan nuansanya masih seperti yang dahulu.
Artinya memberikan ilmu apa adanya tanpa adanya variasi dan inovasi, sehingga
peserta didik baru mengalami hal yang sama seperti belajar di sekolah
sebelumnya. Hal ini akan menjadi bumerang bagi kita, karena peserta didik yang
baru mengharap dengan sangat untuk mendapatkan suasana pembelajaran yang PAIKEM
GEMBROT (Pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan,
gembira, dan berbobot). Namun yang didapat masih banyak pembelajaran yang monoton seperti yang dahulu. Akhirnya banyak sekolah SMP Negeri di Magetan yang mengalami
kekurangan peserta didik.
Kondisi
demikian sudah lama berlangsung. Para guru dan kepala sekolah serta pihak
terkait dengan dunia pendidikan masih belum maksimal dalam mengatasi masalah
ini. Karena dari tahun ke tahun jumlah peserta didik mengalami penurunan. Para
guru dan kepala sekolah juga tak ketinggalan tenaga kependidikan gumregut cancut taliwondo untuk berpacu
mencari peserta didik baru. Sampai menggratiskan seragam untuk menarik minat peserta
didik baru. Ada juga di tetangga sebelah yang melakukan PPDB dengan sangat
tidak masuk akal. Anak yang masih ada di kandungan sudah di daftar menjadi
murid baru. Sungguh terlalu dunia ini. Bahkan sampai persalinannya dibiayai
oleh sekolah. “Jaman sudah Gendeng nek ra gendeng ora bagean ambeng”
Usaha pemerintah
sudah dilakukan. Seperti perubahan kurikulum dari 1994 menjadi Kurikulum Berbasis
Kompetensi tahun 2004 menunjukkan perubahan yang esensial. Perubahan itu salah
satunya diakibatkan kurang berhasilnya pendidikan masa lalu. Seperti pendidikan
yang mengabaikan : Moral, Akhlak, Budi
Pekerti dan Olah Raga serta Life Skill. Akibat dari itu, sebagian besar peserta
didik memiliki sikap pasrah, suka marah, beringas, putus asa, tidak mau kerja
keras, tidak tenang, tanggung jawab kurang, masa bodoh, tidak sopan, kurang
menghargai orang lain. Sikap ini tidak hanya kita jumpai pada generasi muda di
kota, namun di pedesaanpun sudah mewabah. Akhirnya kurikulum 2013 muncul.
Kurikulum yang disebut Kurtilas itu
dimaksudkan untuk meredam dan menyemai perilaku social keagamaan peserta didik.
Pendidikan
ternyata tidak hanya mengedepankan bidang akademis saja namun faktor emotional
spiritual sangat membantu terwujudnya cita-cita anak bangsa. Saat ini orang tua
cenderung untuk memilih sekolah yang tidak hanya mengedepankan akademis saja.
Factor emotional spiritual keagamaan menjadi penentu orang tua untuk memilih
sekolahan untuk anak kesayangannya. Jadi kita harus memberikan perhatian yang
optimal pada bidang perilaku social spiritual di sekolah masing-masing. Karena
orang tua butuh anaknya menjadi anak yang solih dan solikhah berbakti pada
orang tua dan Negara.
Sesuai
dengan penelitian yang dilakukukan oleh Gardner dalam bukunya yang berjudul
Frame Of Mind (Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis
kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan,
melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu
linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan
intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi
yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional.
Apakah kita
lupa, bahwa di dalam rapor kita pelajaran yang paling atas adalah Pendidikan
Agama. Sila pertama Pancasilan juga Ketuhanan Yang Maha Esa. Di dalam lagu
Indonesia raya juga ”bangunlah jiwanya baru bangunlah raganya”. Sedangkan dalam
tujuan pendidikan Nasionalpun tercamtum mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur baru memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan dan seterusnya. Maka tidaklah salah jika
pendidikan kita seharusnya mengedepankan pembangunan peradapan manusia. Jadi
sekolah yang berlomba-lomba dalam kegiatan social keagamaan akan diminati oleh
orang tua dan masyarakat di negeri ini.
Sebentar
lagi Pondok pesantren Temboro akan menjadi miniatur kota Madinah. Mengapa
demikian? Karena mereka memulai pendidikan dengan membangun peradapan manusia. Dimulai
dari menghidupkan amalan seperti sejarah Masjid Nabawi. Memperbaiki amalan
dirinya sendiri, baru keluarga dan orang lain. Pada saat ini Pondok Pesantren
Temboro ada ribuan santriwan santriwati dari berbagai penjuru Nusantara bahkan
dunia. Suatu saat nanti Temboro akan menjadi branding study wisata religi untuk
Magetan Terdepan.
Dengan
kondisi yang demikian maka kita harus berubah dan berbenah. Kita harus
memberikan formula kegiatan peilaku social keagamaan yang banyak. Dengan
istilah sekolah bernuansa pondok pesantren sekolah kita akan semakin diminati
oleh orang tua dan juga anak didik kita.
Comments
Post a Comment