PANDUAN PELAKSANAAN PROGRAM LESSON STUDY
PANDUAN
PELAKSANAAN
PROGRAM
LESSON STUDY
SEKOLAH BERMUTU
SMP NEGERI 1 KARANGREJO
TAHUN 2019 MAGETAN
DAFTAR
ISI
HALAMAN
KATA
PENGANTAR …………………………………………………. ii
DAFTAR
ISI …………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang ……………………………………. 1
B.
Dasar
Hukum ………………...…………………… 2
C.
Tujuan
……………………….……………………. 2
D.
Hasil
Yang Dicapai ……………………………….. 3
BAB II TENTANG LESSON STUDY
A.
Definisi
……………………………………………. 4
B.
Tahapan
Lesson Study ..…………………………. 5
C.
Prosedur
Pengembangan Lesson Study …………… 5
BAB III PERSIAPAN PENGEMBANGAN
LESSON STUDY
A.
Sosialisasi
Program ……………………………. 13
B.
Pengusulan
Calon Sasaran ……………………… 13
BAB IV PELAKSANAAN
A.
Pelatihan
………………………………………… 8
B.
Pelaksanaan
………………………………….……... 8
C.
Pendampingan
……………………………….…… 8
D.
Pengimbasan
……………………………….……….. 8
E.
Reancana
Tindak Lanjut
BAB V MONITORING DAN EVALUASI
…………………… 10
BAB VI PENUTUP …………………………………………… 10
LAMPIRAN
1.
Foto
kegiatan
2.
Jadwal
kegiatan
3.
Telaah
rpp
4.
Hasil
observasi
5.
Rpp
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa atas perkenan-Nya sehingga kami bisa menyusun Panduan
Lesson study sekolah bermutu SMP Negeri 1 Karangrejo tahun2019.
Panduan ini
merupakan acuan pelaksanaan kegiatan Lesson study di SMPN 1 Karangrejo. Perlu diketahui penyusunan Buku panduan ini
hanya sebagai pemandu kegiatan ketika akan melaksanakan kegiatan lesson study,
sehingga diharapkan pelaksanaan Lesson study di SMPN 1 Karangrejo bias berjalan
lancer.
Panduan ini sebagai bentuk implentasi system Penjamin
mutu internal SMP Negeri 1 Karangrejo yang di lanjutkan ke sekolah bermutu
dalam upaya menambah pengembangan sekolah,agar mempunyai kearifan lokal
sekolah.
Ucapan terima
kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan
panduan ini dan diharapkan dapat di manfaatkan bagi semua pihak dalam
pelaksanaannya.
Karangrejo8
Agustus 2019
Kepala Sekolah
Drs. EDY
SISWANTO,M.Pd
NIP.19620214
198803 1 011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sampai saat
ini pembangunan pendidikan nasional belum mencapai hasil sesuai yang
diharapkan, terutama terkait dengan masalah pemerataan akses dan kualitas
pendidikan. Secara eksternal, komponen masukan pendidikan yang secara
signifikan berpengaruh terhadap rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara
lain: (1) ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memadai
secara kuantitas dan kualitas; (2) sarana dan prasarana belajar yang belum
tersedia dan belum didayagunakan secara optimal; (3) pendanaan pendidikan yang
belum memadai untuk menunjang mutu pembelajaran; dan (4) proses pembelajaran
yang belum efisien dan efektif (Depdiknas, 2005: 30).
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia, yang salah satunya melalui peningkatan kompetensi guru, Pemerintah Indonesia
melaksanakan berbagai bentuk pelatihan guru dalam jabatan (in-service teacher
training). In-service training atau biasa disingkat INSET adalah
salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan guru atau mendiseminasikan sebuah
inovasi. Tujuan umum INSET adalah membantu guru memperbaiki kualitas mengajar
untuk meningkatkan karir profesionalnya dengan mendorong mereka untuk selalu
bekerja sama antar mereka sendiri (Noor,2006). Richards, Platt, dan Platt
(1992) mengatakan bahwa In-service Training diberikan kepada guru yang
telah mempunyai pengalaman mengajar dan merupakan bagian dari kelangsungan
pengembangan profesionalisme mereka. Saat ini di Indonesia sedang dikembangkan
dan diimplementasikan upaya peningkatan profesionalisme guru melalaui suatu
kegiatan yang disebut lesson study. Lesson study ditujukan untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru melalui pengkajian
pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan
B.
Dasar Hukum
1.
Undang
undang Republik Indonesia nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.
Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
3.
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar
oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan
Menengah
4.
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) Pendidikan Dasar dan Menengah
5.
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah
6.
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses
Pendidikan Dasar dan Menengah
7.
Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian
Pendidikan
8.
Peraturan
menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 28 tahun 2016 tentang System Penjaminan
Mutu Pendidikan Dasar Dan Menengah.
9.
Surat
edaran menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 73502/MPK.A/PR/2017 tahun 2017
tentang Gerakan Penguatan Penguatan Pendidikan Karakter(PPK)
C. Tujuan
Penerapan
lesson study sebagai
salah satu alternatif pengembangan profesionalitas guru dalam mengajar memiliki
beberapa tujuan. Adapun tujuan utama Lesson Study disini yaitu untuk;
1)
Memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar.
2)
Memperoleh
hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan
pembelajaran.
3)
Meningkatkan
pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
4)
Membangun
sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat
menimba pengetahuan dari guru lainnya.
D. Hasil Yang Dicapai
Adapun
hasil yang diharapkan Penerapan lesson
study sebagai salah satu alternatif pengembangan profesionalitas
guru dalam mengajar memiliki beberapa harapan yang akan dicapai. Adapun harapan
utama Lesson Study disini yaitu untuk;
- 1. Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar.
- . Memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran.
- . Meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
- Membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
- Guru dapat membuat PTK. atau Best Practise.
BAB II
TENTANG LESSON
STUDY
A.
Definisi
Pada prisipnya Lesson Study/Open Class adalah Guru mengajar
dilihat orang banyak. Apalagi yang melihat para pejabat, pakar dan masyarakat
sertaorang tua, pasti si guru akan tidak tidur semalaman untuk mempersiapkan
diri tampil bagaikan artis di panggung.
Proses pembelajaran di negari ini pada umumnya masih banyak dikuasai oleh guru (teacher-centered), sehingga peserta didik cenderung pasif. Karena peserta didik hanya mendengarkan materi yang diberikan guru, maka kondisi proses pembelajaran terasa monoton dan akhirnya membosankan.
Proses pembelajaran di negari ini pada umumnya masih banyak dikuasai oleh guru (teacher-centered), sehingga peserta didik cenderung pasif. Karena peserta didik hanya mendengarkan materi yang diberikan guru, maka kondisi proses pembelajaran terasa monoton dan akhirnya membosankan.
Pada awalnya guru merasa bangga dan pintar apabila masuk ruang kelas
tanpa membawa buku. Mereka begitu lancar dalam menerangkan materi yang
diampunya, bahkan dalam satu tahun pun kebanyakan guru sudah hapal diluar
kepala. Tanpa persiapan mereka piawai dalam menyampaikan materi yang akan
diajarkan. Namun dalam perkembangan dunia pendidikan yang membutuhkan peserta
didik aktif, kreatif, serta inovatif maka pembelajaran seperti di atas sudah
bukan jamannya lagi dan bahkan harus dikubur dalam-dalam.
Pada perkembangan berikutnya proses pembelajaran harus menyenangkan dan
kendali waktu sebagian besar dikuasai peserta didik(student-centered). Maka
guru perlu mempersiapkan diri sebelum melakukan proses pembelajaran. Persiapan
yang dilakukan guru sebelum menyampaikan materi ajar sangat penting untuk
menentukan keberhasilan tersampainya materi ajar pada peserta didik.
Sebenarnya persiapan mengajar seperti ini sudah lama dilakukan oleh
seorang calon guru SD (Sekolah Dasar). Ketika saya belajar di SPG (Sekolah
Pendidikan Guru) tahun 1970-an setiap calon guru yang akan praktek mengajar
harus mempersiapkan SP (Satuan Pembelajaran). Satuan pembelajaran harus
dikonsultasikan dulu kepada guru pembimbing. Dalam konsultasi ini, semua
langkah dari pembukaan sampai penutup dibahas satu persatu. Bagaimana metode
pembelajaranya, cara membuat TIK (Tujuan Instruksional Khusus). Seorang calon
guru merasa bangga kalau dalam sekali konsultasi SP-nya tidak ada koreksinya.
Namun setelah jadi guru hal tersebut jarang dilakukan dan bahkan SP atau
sekarang dikenal istilah RPP dibuat setahun sekali.
Pentingnya melakukan persiapan sebelum proses pembelajaran ini juga
dilakukan di negara Jepang. Namun bedanya, mereka melakukan secara
terus menerus dan bahkan dipraktekkan lebih dahulu dihapan temannya. Sampai
saat ini cara tersebut menjadi rujukan pembelajaran di negara lain,
itulah yang dikenal dengan istilah Kenkyuu Jugyo atau Lesson
Study.
Lesson study masuk ke Indonesia sekitar tahun 2006 melalui proyekJICA
(Japan International Corporation Agency) melalui 3 universitas UM, UPI dan
UNY. Negara lain pun seperti di Amerika Serikat juga mengembangkanLesson
Study tersebut. Tokoh yang mempopulerkannya adalah Catherine Lewis yang
telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun
1993. Kita sebagai negara berkembang perlu sekali melakukan Lesson Study untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini.
Lesson
Study bukan metode pembelajaran atau teori belajar, tetapi
merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran
yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru.
Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran dalamLesson Study ini sangat
terlihat pada proses perencanaan. Bagaimana seorang guru mendesain proses
pembelajaran yang akan dilakukan. Dari berbagai unsur baik materi, metode,
media, alat peraga dan kondisi peserta didik serta berbagai kemungkinan yang
akan terjadi pada proses pembelajaran itu dibayangkan, didiskusikan, dipecahkan
dan dipraktekkan dulu dihadapan temannya. Semua kekurangan dalam praktek
mengajar akan dievaluasi dan dibenahi sehingga betul-betul sempurna dalam implementasinya.
Setelah semuanya siap baru seorang guru mempraktekkannya dalam proses
pembelajaran. Tidak hanya berhenti diperencanaan (plan) namun dilihat
saat mempraktekkannya (do) dan perlu dibahas (refleksi) dan
ditindak lanjuti.
Langkah berikutnya setelah Plan adalah Do. Dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran atau do semua orang boleh
mengamatinya. Dalam pengamatan baik dari temannya atau dari pengawas juga
siapa saja, para observer tidak boleh menilai bagaimana guru melakukan proses
pembelajaran, namun hanya melihat bagaimana fakta aktivitas peserta didik. Para
observer mencatat semua aktivitas peserta didik. Catatan itulah yang nanti akan
dibahas di proses berikutnya yaitu Se (refleksi)
Pada tahap akhir adalah Se. dalam tahapan ini semua observer memberikan
masukan kepada guru model. Pada intinya para observer memberikan fakta semua
aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik ketika guru model melakukan
pembelajaran. Tidak ada yang menghakimi cara mengajar guru. Yang disampaikan
adalah seperti Si Fulan tidak mengerjakan ini. Si B kurang aktif dsb, j adi
guru tidak merasa dihakimi atau dinilai oleh temannya. Hal tersebut akan
memberikan sikap toleransi yang luar biasa dan membangun rasa percaya diri pad
guru model. Dari sinilah perbaikan perbaikan akan disusun demi menyempurnakan
proses pembelajaran para guru.
Tujuan utama Lesson Study yaitu
untuk: (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana
siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang
bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3)
meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4)
membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba
pengetahuan dari guru lainnya.
Manfaat yang dapat diambil Lesson Study,
diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat
memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan
dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study.
Lesson
Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis
MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara
siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do);
refleksi (check); dan tindak lanjut
. Dampak Lesson Study pada PKG (Penilaian
Kinerja
Guru)
Akhir-akhir ini guru disibukkan untuk mempersiapan diri dinilai oleh
asesor. Penilaian merupakan proses untuk meningkatkan kinerja guru yang pada
akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di negeri yang tercinta
ini. Penilaian dilakukan tidak hanya pada saat guru melakukan proses
pembelajaran namun diamati aktivitas sehari-hari baik dilingkungan sekolah
maupun keluarga dan di masyarakat.
Substansi guru untuk meningkatkan prestasi peserta didik ada pada proses
pembelajaran. Proses pembelajaran dikatakan berhasil jika materi yang deberikan
oleh guru tuntas tersampaikan dan dimengerti oleh peserta didik. Maka dari
itu Lesson Study inilah salah satu cara untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran.
Dengan melaksanakan lesson study guru model (gudel) sebitan
guru yang melaksanakan LS akan menjadi ahli strategi dalam menyampaikan
materi ajar kepada peserta didik. Karena merasa persiapannya sangat matang,
maka guru model tersebut dapat menawarkan diri untuk dinilai kenerjanya pada
saat melakukan proses pembelajaran. Dengan persiapan atau plan yang
matang, maka akan mensukseskan proses pembelajaran. Dengan demikian nilai yang
diperoleh Gudel pada saat proses pembelajaran sangat memuaskan.
Mengapa dengan melakukan lesson study nilai kenerja guru (PKG)
sangat memuaskan?. Karena seorang guru yang ditunjuk menjadi gudelsecara
berkolaborasi melakukan perencanaan yang matang dengan temannya. Dalam tahap
perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Studymenyusun RPP yang
pembelajarannya berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan
menganalisis semua kebutuhan dan permasalahan yang akan muncul saat proses
pembelajaran berlangsung, seperti tentang: kompetensi dasar yang dijabarkan
menjadi indikator, cara membelajarkan siswa aktif, pemenuhan media dan alat
pembelajaran, dan lain-lain, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang
akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran.
Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk
memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis
kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam
penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar
sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang
akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal,
tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran. Maka dengan Lesson
study seorang guru wajar akan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan.
Dampak Lesson Study pada Karya Tulis Ilmiah.
Lesson
study sangat tepat untuk menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah berupa
Penelitian Tindakan Kelas. Mengapa?. Dengan melakukan lesson study tentu sudah
melakukan banyak perubahan baik metode dan media pembelajarannya. Dengan
mengambil metode yang baru dalam melakukan proses pembelajaran tentu dapat
digunakan sebagai awal untuk melakukan sebuah penelitian. Pada prinsipnya
lesson study sama dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Keduanya berujung
pada perbaikan pembelajaran yang akhirnya dapat meningkatkan
prestasi belajarpeserta didik.
Ketika
kita melakukan perubahan dalam pembelajaran baik itu merubah media,
sarana, metode, lingkungan, mungkin pengelolaan dalam pembelajaran maka kita
dapat melakukan penelitian apakah perubahan itu berdampak pada prestasi peserta
didik. Dari perubahan-perubahan itu kita catat dan kita laporkan sehingga akan
menjadi sebuah penelitian tindakan kelas pada siklus pertama. Karena tindakan
ini kemungkinan akan berlanjut setelah mengadakan refleksi maka tindakan kedua
merupakan siklus kedua pada penelitian tindakan kelas. Namun hasil
refleksi untuk memperbaiki proses pembelajaran pada siklus ke-dua
kita tidak perlu open class pada kelas yang sama.
Diharapkan dengan melaksanakan lesson study dapat menghasilkan penelitian
tindakan kelas yang orisinil. Dengan menghasilkan PTK, maka guru tidak akan
susah dalam kenaikan pangkatnya. Berdasarkan Permenpan dan RB no 16 kenaikan
pangkat mulai golongan III B harus disertai Publikasi Ilmiah diantaranya PTK
atau bisa juga dengan Karya Inovasi.
Seberapa besar angka kredit yang mereka peroleh kalau tidak dapat
menghasilkan karya inovasi dan publikasi ilmiah seorang guru tidak akan pernah
naik pangkat. Dengan demikian diharapkan seorang guru dapat melakukan Lesson
study untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Dengan LS dapat dipergunakan
untuk membuat Penelitian Tindakan Kelas. Selain itu bisa dibuat juga best
practice untuk menambah poin pengembangan keprofesian berkelanjutan
Selamat mencoba jadi guru model.
Lesson Study merupakan suatu pendekatan
peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru secara
kolaboratif, dengan langkah-langkah pokok merancang pembelajaran untuk mencapai
tujuan, melaksanakan pembelajaran, mengamati pelaksanaan pembelajaran tersebut,
serta melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji tersebut
untuk bahan penyempurnaan dalam rencana pembelajaran berikutnya. Fokus utama
pelaksanaan Lesson Study adalah
aktivitas siswa di kelas, dengan asumsi bahwa aktivitas siswa tersebut terkait
dengan aktivitas guru selama mengajar di kelas.
(Sumber
: Handout LS PPL Universitas Negeri Malang)
Lesson study bukan metode pembelajaran, juga
bukan pendekatan pembelajaran. Sebenarnya, Lesson study adalah model
pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara
kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas yang
saling membantu dalam belajar untuk membangun komunitas belajar. Memperhatikan definisi Lesson study ini,
sebagian orang mempertanyakan, apa bedanya dengan PTK (Penelitian Tindakan
Kelas)? Jawabnya adalah dalam Lesson study dapat dilakukan PTK bahkan
bukan hanya PTK, namun juga dapat dilakukan penelitian pengembangan pembelajaran.
Penerapan Lesson Study didasarkan kepada
proses, usaha yang berkesinambungan. Proses yang asli dan nyata, bukan tampil
karena hanya untuk diamati. Kondisi natural inilah yang diyakini dapat membuat
ilmu yang diperoleh tidak pernah dilupakan siswa. Guru harus merubah cara
menyampaikan ilmunya, dari yang bersifat klasikal (penyampaian materi) menjadi
eksploratif (pemahaman arti suatu ilmu). Keaktifan siswa dalam bereksplorasi
tidak akan terganggu oleh banyaknya pengamat yang hadir di dalam kelasnya.
D. TAHAPAN LESSON STUDY
1. Tahapan Perencanaan (Plan)
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung
dalam Lesson Study berkolaborasi
untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan
yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara
membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan
sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan
untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan
solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil
analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan
dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang
didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama
pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai
dengan tahap akhir pembelajaran.
2. Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu:
1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran
yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan
sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan
2) kegiatan pengamatan atau observasi
yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang
lainnya (guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya
yang bertindak sebagai pengamat/observer)
Beberapa hal
yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:
1. Guru melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
2. Siswa diupayakan dapat menjalani
proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan
under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
3. Selama kegiatan pembelajaran
berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan
pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
4. Pengamat melakukan pengamatan secara
teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru,
siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah
disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
5. Pengamat harus dapat belajar dari
pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
6. Pengamat dapat melakukan perekaman
melalui video camera atau photo digital untuk keperluan
dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak
mengganggu jalannya proses pembelajaran.
7. Pengamat melakukan pencatatan
tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya
tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama
siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui
aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan
pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.
3. Tahapan Refleksi (See)
Tahapan
ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses
pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta
berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah
dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti
seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta
lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang
telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum
maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya
mengenai permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.
Selanjutnya,
semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses
pembelajaran yang telah dilaksanakan,bukan
terhadap guru yang bersangkutan. Dalam menyampaikan saran-saranya,
pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil
pengamatan, tidak berdasarkan
opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat
dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau
peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun
memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.
E.
PELAKSANAAN
Pada dasarnya
waktu pelaksanaan program ini adalah secara jangka panjang. Untuk permulaan,
program ini akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu semester untuk tahun
pelajaran 2019/2020, pada semester gasal
RENCANA
PELAKSANAAN
Terlampir
RAMBU-RAMBU PELAKSANAAN LESSON STUDY
A. Tahap Perencanaan (Plan)
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum
kegiatan pembelajaran dan pengamatan dimulai.
1.
Pengamat dan
undangan lainnya hendaknya datang paling lambat 5 menit sebelum pembelajaran
dimulai.
2.
Kedatangan
tamu di sekolah hendaknya tidak mengganggu konsentrasi belajar siswa di kelas
masing-masing. Karena itu tamu hendaknya tenang, bila berbicara jangan menimbulkan
kebisingan di sekolah.
3.
Siapkan
lembar observasi atau buku catatan dan pena. Jika memungkinkan setiap peserta
lesson study memperoleh RPP, LKS atau perangkat pembelajaran lainnya yang telah
diperbanyak untuk para pengamat.
4.
Denah tempat
duduk siswa dan nomor atau nama siswa perlu disiapkan untuk mempermudah proses
pengamatan. Denah tempat duduk yang dilengkapi dengan nama siswa dibuat dalam
selembar kertas untuk diperbanyak dan dibagikan pada seluruh pengamat yang
datang.
5.
Jika Anda
membawa HP, setel ke profile silent (bisu) atau getar supaya nada panggil tidak
berbunyi. Perlu dihindari mengirim atau menerima telepon kecuali untuk hal-hal
terpaksa.
6.
Usahakan
untuk tidak membawa makanan dan tidak merokok di dalam ruangan/kelas.
7.
Pastikan
agar pada waktu pengamatan nanti tidak diganggu perasaan ingin buang hajat.
Buang air kecil/besar hendaknya dilakukan sebelum pembelajaran.
B. Tahap Pelaksanaan (Do)
1.
Semua
peserta segera memasuki kelas dengan tertib pada waktu yang ditentukan.
2.
Begitu
memasuki ruangan semua peserta dan undangan hendaknya tidak lagi berkeinginan
keluar masuk kelas. Tetaplah berada di dalam kelas dan bersiap mengamati siswa
belajar.
3.
Segera
menempati posisi sedemikian sehingga dapat memperhatikan perubahan wajah dan
gerak-gerik siswa ketika belajar. Posisi
yang ideal adalah dihadapan siswa. Namun jika siswa berdiskusi saling
berhadapan, posisi yang ideal adalah di samping kelompok.
4.
Pada
awalnya, setiap pengamat berlatih mengamati satu kelompok. Kelak jika sudah
lebih dari 5 kali pengamatan, pengamat dapat mengamati beberapa kelompok lain
sehingga dapat mengetahui atmosfir kelas secara keseluruhan.
5.
Tidak
membantu guru dalam proses pembelajaran dalam bentuk apapun. Misalnya ikut
membagikan LKS, menenangkan siswa, dan lain-lain. Biarlah guru melakukan
tugasnya secara mandiri dan terbebas dari interverensi siapapun.
6.
Tidak
membantu siswa dalam proses pembelajaran, misalnya mengarahkan pekerjaan siswa.
Jika siswa bertanya kepada Anda (sebagai pengamat), katakan agar siswa bertanya
langsung pada guru.
7.
Tidak
mengganggu pandangan guru/siswa selama pembelajaran. Jika Anda sedang mendekati
kelompok atau berada di tengah-tengah kelas, kemudian tiba-tiba guru ingin
memberikan arahan secara klasikal maka segeralah menepi agar tidak mengganggu
pandangan siswa.
8.
Tidak
mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar, misalnya berbicara dengan
pengamat lain, keluar masuk
ruangan.
9.
Jika
menggunakan kamera untuk mengambil gambar kegiatan belajar (guru/siswa) lampu
kilat (flash) hendaknya dimatikan. Kilatan lampu kamera dapat mengganggu atau
menghentikan konsentrasi belajar siswa.
10. Tidak makan, minum, dan merokok di
dalam ruangan pembelajaran.
11. Ingat, fokuskan pengamatan pada
siswa belajar, bukan hanya pada guru yang mengajar. Gunakan lembar pengamatan yang tersedia. Jika
fenomena yang diamati tidak tercantum dalam lembar observasi, pengamat dapat
menambahkannya.
12. Pengamat melakukan pengamatan secara penuh sejak awal
sampai akhir pembelajaran.
13. Selain mengamati siswa belajar, pengamat juga perlu memperhatikan;
a) Teknik pengelolaan kelas yang
dibuat oleh guru.
b) Bagaimana guru mengefektifkan
pencapaian tujuan pembelajaran?
c) Bagaimana guru memanfaatkan media
pembelajaran sederhana dari lingkungan?
d) Bagaimana upaya guru membuat
siswa kreatif?
C. Tahap Refleksi (See)
Sebagaimana yang telah disebut di
depan bahwa pada tahap ini sangatlah penting. Dalam tahap ini juga diperlukan
adanya seorang yang berperan sebagai moderator. Berikut adalah rambu-rambu
dalam melaksanakan tahap refleksi.
1. Moderator
a. Moderator adalah ”orang kunci” yang
dapat menghidupkan suasana diskusi.
b. Seorang moderator dalam diskusi
refleksi lesson study bukan hanya harus pandai berbicara sesuai situasi, tetapi
ia juga harus memahami isi setiap pembicaraan. Oleh karena itu moderator juga
harus mengikuti dan mencermati semua situasi/kejadian pembelajaran yang akan
direfleksikan.
c. Ketika mengawali dan membuka suasana
diskusi, upayakan untuk menyegarkan suasana pertemuan, yang umumnya para
observer dan peserta lesson study sudah mulai lelah karena sebelumnya berdiri
lama dalam melakukan observasi. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan menyapa
beberapa orang yang sudah dikenal atau mengenalkan beberapa orang peserta atau
tamu yang belum dikenal peserta pada umumnya. Jangan lupa memberikan komentar
awal yang arahnya memberikan penghargaan atau sanjungan untuk memberikan
dukungan moral kepada guru model.
d. Sampaikan ucapan terima kasih kepada
guru model atas sajian pembelajaran yang telah dibuat dan berikan penghargaan,
misalnya berupa tepuk tangan dari semua peserta.
2. Refleksi Diri Guru Model
Moderator, pada
saat memberi kesempatan guru model untuk menyampaikan refleksi, sampaikanlah
rambu-rambu apa saja yang perlu diungkapkan oleh guru model, antara lain;
a.
Guru tidak
hanya mengungkapkan perasaan senang, sedih, bangga atau kurang puas dengan
hasil mempraktikan skenario pembelajaran yang telah
dirangcang/dipersiapkan.
b. Guru model perlu menyampaikan
ringkasan alur langkah-langkah pembelajaran, terutama untuk mengulas hal-hal
yang menarik, baik itu ketidak-terlaksanaan langkah-langkah pembelajaran maupun
kasus-kasus menarik pada langkah tersebut.
c. Untuk melengkapi refleksi diri, guru
model dapat menyebutkan kira-kira prosentase ketercapaian skenario pembelajaran
yang telah dibuat.
3. Membagi Termin dan Melaksanakan Diskusi
a.
Agar diskusi
lebih terfokus dan terarah, sebaiknya waktu diskusi dibagi menjadi beberapa
termin dengan masing-masing termin mengacu pada permasalahan tertentu. Misalnya
ada termin yang khusus membahas tentang:
ü interaksi siswa-siswa dalam kelompok
maupun dalam presentasi hasil
ü diskusi/kerja kelompok,
ü interaksi siswa dengan media
belajar,
ü interaksi siswa dengan guru,
ü lompatan-lompatan belajar yang
dibuat oleh beberapa siswa,
ü pengalaman-pengalaman berharga yang
dapat diperoleh dari kegiatan observasi,
b. Setelah termin diskusi dibuka,
berikan kesempatan kepada beberapa orang untuk mengemukakan temuan hasil
pengamatan yang menarik untuk diulas dan yang sesuai dengan tema termin
diskusi. Komentar sebaiknya disertai dengan mengemukakan fakta atau data konkrit
hasil pengamatan, misalnya dengan menunjukkan kelompok atau nama siswa.
Kendalikan agar setiap orang
menyampaikan komentar sesuai dengan tema dan dalam bahasa yang ringkas
tapi jelas. Hindarkan uraian komentar yang berbelit-belit.
c. Di dalam menyampaikan temuan dari
hasil observasi, sebaiknya guru tidak membaca catatan dalam lembar observasi
secara keseluruhan, tetapi disarankan untuk memilih bagian catatan yang terkait
dengan tema. Jika ada komentar yang mulai menyimpang dari tema, sebaiknya
diingatkan untuk kembali menyampaikan komentar yang sesuai dengan tema yang
didiskusikan.
d. Jika ada pertanyaan klarifikasi atau
komentar dari peserta di luar tema atau di luar konteks lesson study maka
moderator harus dapat mengisolir hal tersebut untuk tidak diteruskan, misalnya
dengan cara mengatakan ”hal tersebut akan
kita bahas di lain kesempatan”
e. Setelah seseorang atau beberapa
orang menyampaikan komentar terkait dengan temuannya, moderator harus berusaha
untuk menangkap esensi dan hal menarik yang perlu dibahas lebih jauh terkait
dengan penyebab munculnya fenomena tersebut dan alternatif solusi yang
diusulkan.
f.
Setelah
beberapa temuan menarik yang sejenis (sesuai tema) diungkapkan oleh beberapa
observer, berikutnya lemparkan masalah tersebut kepada peserta yang lain untuk
ditanggapi, terutama pada ulasan tentang kemungkinan penyebab munculnya
fenomena tersebut dan kemungkinan alternatif solusinya.
g. Dalam memberikan masukan tentang
alternatif solusi suatu permasalahan disarankan agar pengusul mendasarkan usulan
tersebut pada pengalaman praktis di sekolah masing-masing atau rujukan teori
atau kalangan pakar pendidikan.
h. Perhatian dan konsentrasi moderator
harus selalu fokus pada setiap komentar yang disampaiakan peserta, dan selalu
dapat berpikir ”Bagaimana membuat situasi diskusi lebih hidup, menarik, dan
tidak membosankan. Jika ada ucapan dari observer atau kejadian-kejadian kecil
tertentu yang memungkin dijadikan bahan ”jok-jok” atau humor maka upayakan
untuk dimunculkan dengan sedikit ”dibumbui” agar menyegarkan suasana.
i.
Upayakan
untuk memberikan kesempatan yang merata kepada semua peserta diskusi. Oleh
karena itu hindarkan adanya dominasi komentar atau bicara pada orang tertentu.
Jika ingin membatasi komentar peserta yang terlalu panjang, maka sampaikanlah
dengan bahasa yang halus, dengan sedikit gurauan atau permintaan maaf. Tunjuk
atau mintalah kepada salah satu atau beberapa peserta yang kelihatan pasif
untuk menyampaikan pendapat terkait dengan hal yang sedang dibahas, misalnya
dengan meminta seseorang untuk berpendapat setuju atau tidak setuju terhadap
pendapat yang lain.
j.
Pada akhir
setiap termin, moderator harus berusaha untuk memberikan ulasan singkat,
semacam resume, dari hal yang didiskusikan pada termin tersebut. Hati hati agar
moderator tidak membuat kesimpulan yang merupakan justifikasi yang paling
benar, atau seolah-olah diskusi tersebut telah menghasilkan satu aturan yang
berlaku umum. Biarlah kesimpulan akhir dirumuskan sendiri oleh masing-masing
peserta dan menjadi ”good practices” yang akan dicoba untuk diimplementasikan
di sekolah masing-masing sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
k. Setelah termin pertama selesai
diskusi dilanjutkan ke termin berikutnya dengan tema atau fokus diskusi yang
lain. Selesai dalam arti masalah yang muncul, kemungkinan penyebab dan
alternatif solusinya telah dibahas secara tuntas. Begitu seterusnya sampai
semua masalah yang muncul didiskusikan.
l.
Pada setiap
akhir termin moderator dapat memberikan kesempatan kepada guru model untuk
memberikan tanggapan. Hindarkan tanggapan dari guru model yang terkesan
”terlalu membela diri” atau mencari pembenaran atas kejadian atau kekurangan
yang ada.
m. Nara sumber (Dosen dan atau Guru
Pamong) diberi kesempatan untuk menyampaikan komentar singkat terkait dengan
fokus diskusi suatu termin, atau diberi kesempatan berkomentar pada akhir sesi
sebelum refleksi ditutup. Sebaiknya diberikan tekanan pada narasumber hal penting
yang diharapkan mendapatkan ulasan, selain ulasan yang telah dipersiapkan
sendiri oleh narasumber.
n. Jika ada masukan yang sangat berarti
untuk skenario pembelajaran, maka sarankan agar RPP segera direvisi oleh guru
model atau oleh kelompok.
5. Mengakhiri Diskusi Refleksi
a. Sebelum menutup forum diskusi
refleksi moderator dapat menyampaikan ringkasan atau penegasan tentang hal-hal
penting yang telah didiskusikan.
b. Saat menutup jangan lupa
menyampaikan ucapan terima kasih pada semua pihak yang telah berpartisipasi,
misalnya kehadiran Dosen, Guru Pamong, Kepala Sekolah, Pengawas, dll.
(Sumber:
Buku Lesson study (Studi Pembelajaran) oleh Istamar Syamsuri dan Ibrohim, 2008)

Comments
Post a Comment