*PGRI Bubar Indonesia Bubar!*
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Saat libur ini saya ingin sekali menuliskan judul di atas. Mengapa saya tertarik menuliskan judul di atas? Karena sangat rasional dan faktual PGRI telah menjadi bagian paling hebat di negeri ini dalam membangun integrasi bangsa. Siapa yang mau membantah? Betapa hebatnya PGRI dalam sisi membangun integritas bangsa.
PGRI telah menjadi bagian paling strategis bagi negeri ini tanpa disadari oleh negara dan semua pihak. Sesungguhnya PGRI telah menjadi “paku bumi” integrasi bangsa dari Sabang sampai Merauke, seiring dengan usia negeri ini. Saya pernah katakan pada sahabat-sahabat saya di dunia organisasi profesi guru bahwa ada pilar kelima di negeri ini yang tidak tergali oleh politisi Taufik Kiemas yakni PGRI.
Tokoh nasional Taufik Kiemas hanya menyebutkan empat pilar kebangsaan yang menjadi modal fondasional negeri ini, yakni Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Taufik Kiemas lupa bahwa empat pilar kebangsaan itu terlahir dari intelektualitas para guru bangsa. Bahkan Prof. Surya mengatakan di negeri ini hanya ada satu organisasi dan profesi dimana anggotanya tidak ada yang buta hurup sejak negeri ini didirikan yakni organisasi profesi guru PGRI. Padahal sejak Indonesia berdiri hampir semua lembaga negara masih ada yang buta hurup.
Selanjutnya Prof. Surya menyatakan bahwa hanya PGRI yang memiliki nama organisasi tidak pernah berubah-ubah. Identitas republik Indonesianya menempel abadi dalam organisasi PGRI. Sejak kemerdekaan sampai saat ini tetap PGRI. Padahal negeri ini saja sejak kemerdekaan pernah berubah nama dari NKRI ke RIS dan NKRI lagi. Bahkan dunia militer saja mengenal BKR, TKR, dan TNI. Selanjutnya beberapa kementrian dan organisasi terus berubah nama mencari bentuk. PGRI tidak.
PGRI sangat konsisten dan berkarakter. Ia menjadi contoh dari “pilar” kebangsaan yang benar-benar berkebangsaan, setia pada Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan cinta NKRI. Hanya di PGRI semua penganut agama ada. Hanya di PGRI semua suku ada. Hanya di PGRI semua bahasa ada. Hanya di PGRI semua potensi pendidik bangsa ada. PGRI adalah representasi dari wajah ke Indonesiaan kita. PGRI sangat berbeda dengan organisasi-organisasi besar lainnya yang homogen.
PGRI anggotanya mayoritas sarjana. PGRI mayoritas adalah pendidik. PGRI satu-satunya organisasi profesi yang paling mapan dan sangat NKRI. Oragnisasi PGRI ada penguatan Republik Indonesia dalam nama organisasinya. Walau masih banyak kekurangan di internal PGRI tetapi tetap PGRI sebagai pilar kebangsaan yang strategis di negeri ini. Dalam perspektif saya selama ada PGRI Indonesia tidak akan bubar. Mengapa demikian? Karena PGRI adalah himpunan para guru seluruh Indonesia yang setiap hari memompakan nasionalisme dan cinta kebinekaan di ruang kelas.
Apalagi di zaman now ini. PGRI dengan gerakan yang sangat masif. Terus memompakan kebersamaan dalam mencintai republik ini. Anti kekerasan, anti intoleransi, anti hoaks, anti hujat, anti mempertentangkan pertentangkan SARA dan berusaha jauh dari mentalitas gaduh bersumbu pendek. PGRI zaman now berusaha membangkitkan kesadaran kolektif kebangsaan berbasis dedikasi dan prestasi. Dimulai dari pelayanan terbaik dari jenjang PAUD sampai perguruan tinggi, diseluruh Indonesia. Mulai dari daerah pinggiran di pelosok pegunungan sampai pusat kota di sudut-sudut gedung pencakar langit.
Pada hakekatnya empat pilar kebangsaan adalah benda mati, pasif dan statis. Namun para guru yang terhimpun dalam PGRI adalah “benda” yang sangat hidup dan menghidupkan segala potensi positif di negeri ini termasuk manfaat dan sakralitas empat pilar kebangsaan dapat membumi berkat jasa para guru. Para guru dapat menginjeksikan empat pilar kebangsaan dari generasi ke generasi. Pertanyaan Saya, adakah negara yang bisa tegak berdiri tanpa ada guru-guru di dalamnya? Tentu semua negara akan bubar bila didalamnya tidak ada sejumlah guru. Bahkan Kaisar Jepang membangun bangsanya dari kehancuran karena PD 2 dimulai dengan para guru.
Sahabat pendidik dimanapun berada dengan segala kekurangan dan kelemahannya PGRI tetap yang terbaik bagi negeri ini. PGRI adalah pilar kelima, Ia hidup dan menghidupi manis pahitnya negeri. Tanpa PGRI, tanpa guru, negeri ini benar-benar akan bubar. Saatnya pemerintah menghargai PGRI sebagai organiasi profesi mitra strategis yang benar-benar telah menjadi penopang kuatnya kebangsaan kita.
PGRI bukan organisasi homogen dalam kepercayaan tertentu, kita bukan organisasi homogen dalam kesukuan tertentu, kita bukan organisasi homogen dalam membela satu pihak tertentu. PGRI adalah The Real Indonesia. PGRI adalah wajah kebangsaan kita. Membela masa depan bangsa Indonesia melalui pendidikan. PGRI tak dibutuhkan bila pendidikan tak dibutuhkan umat manusia. Sayangnya pendidikan hanya bisabu berjalan hanya dengan tenaga para guru dan PGRI adalah rumah para guru, bukan yang lain.
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Saat libur ini saya ingin sekali menuliskan judul di atas. Mengapa saya tertarik menuliskan judul di atas? Karena sangat rasional dan faktual PGRI telah menjadi bagian paling hebat di negeri ini dalam membangun integrasi bangsa. Siapa yang mau membantah? Betapa hebatnya PGRI dalam sisi membangun integritas bangsa.
PGRI telah menjadi bagian paling strategis bagi negeri ini tanpa disadari oleh negara dan semua pihak. Sesungguhnya PGRI telah menjadi “paku bumi” integrasi bangsa dari Sabang sampai Merauke, seiring dengan usia negeri ini. Saya pernah katakan pada sahabat-sahabat saya di dunia organisasi profesi guru bahwa ada pilar kelima di negeri ini yang tidak tergali oleh politisi Taufik Kiemas yakni PGRI.
Tokoh nasional Taufik Kiemas hanya menyebutkan empat pilar kebangsaan yang menjadi modal fondasional negeri ini, yakni Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Taufik Kiemas lupa bahwa empat pilar kebangsaan itu terlahir dari intelektualitas para guru bangsa. Bahkan Prof. Surya mengatakan di negeri ini hanya ada satu organisasi dan profesi dimana anggotanya tidak ada yang buta hurup sejak negeri ini didirikan yakni organisasi profesi guru PGRI. Padahal sejak Indonesia berdiri hampir semua lembaga negara masih ada yang buta hurup.
Selanjutnya Prof. Surya menyatakan bahwa hanya PGRI yang memiliki nama organisasi tidak pernah berubah-ubah. Identitas republik Indonesianya menempel abadi dalam organisasi PGRI. Sejak kemerdekaan sampai saat ini tetap PGRI. Padahal negeri ini saja sejak kemerdekaan pernah berubah nama dari NKRI ke RIS dan NKRI lagi. Bahkan dunia militer saja mengenal BKR, TKR, dan TNI. Selanjutnya beberapa kementrian dan organisasi terus berubah nama mencari bentuk. PGRI tidak.
PGRI sangat konsisten dan berkarakter. Ia menjadi contoh dari “pilar” kebangsaan yang benar-benar berkebangsaan, setia pada Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan cinta NKRI. Hanya di PGRI semua penganut agama ada. Hanya di PGRI semua suku ada. Hanya di PGRI semua bahasa ada. Hanya di PGRI semua potensi pendidik bangsa ada. PGRI adalah representasi dari wajah ke Indonesiaan kita. PGRI sangat berbeda dengan organisasi-organisasi besar lainnya yang homogen.
PGRI anggotanya mayoritas sarjana. PGRI mayoritas adalah pendidik. PGRI satu-satunya organisasi profesi yang paling mapan dan sangat NKRI. Oragnisasi PGRI ada penguatan Republik Indonesia dalam nama organisasinya. Walau masih banyak kekurangan di internal PGRI tetapi tetap PGRI sebagai pilar kebangsaan yang strategis di negeri ini. Dalam perspektif saya selama ada PGRI Indonesia tidak akan bubar. Mengapa demikian? Karena PGRI adalah himpunan para guru seluruh Indonesia yang setiap hari memompakan nasionalisme dan cinta kebinekaan di ruang kelas.
Apalagi di zaman now ini. PGRI dengan gerakan yang sangat masif. Terus memompakan kebersamaan dalam mencintai republik ini. Anti kekerasan, anti intoleransi, anti hoaks, anti hujat, anti mempertentangkan pertentangkan SARA dan berusaha jauh dari mentalitas gaduh bersumbu pendek. PGRI zaman now berusaha membangkitkan kesadaran kolektif kebangsaan berbasis dedikasi dan prestasi. Dimulai dari pelayanan terbaik dari jenjang PAUD sampai perguruan tinggi, diseluruh Indonesia. Mulai dari daerah pinggiran di pelosok pegunungan sampai pusat kota di sudut-sudut gedung pencakar langit.
Pada hakekatnya empat pilar kebangsaan adalah benda mati, pasif dan statis. Namun para guru yang terhimpun dalam PGRI adalah “benda” yang sangat hidup dan menghidupkan segala potensi positif di negeri ini termasuk manfaat dan sakralitas empat pilar kebangsaan dapat membumi berkat jasa para guru. Para guru dapat menginjeksikan empat pilar kebangsaan dari generasi ke generasi. Pertanyaan Saya, adakah negara yang bisa tegak berdiri tanpa ada guru-guru di dalamnya? Tentu semua negara akan bubar bila didalamnya tidak ada sejumlah guru. Bahkan Kaisar Jepang membangun bangsanya dari kehancuran karena PD 2 dimulai dengan para guru.
Sahabat pendidik dimanapun berada dengan segala kekurangan dan kelemahannya PGRI tetap yang terbaik bagi negeri ini. PGRI adalah pilar kelima, Ia hidup dan menghidupi manis pahitnya negeri. Tanpa PGRI, tanpa guru, negeri ini benar-benar akan bubar. Saatnya pemerintah menghargai PGRI sebagai organiasi profesi mitra strategis yang benar-benar telah menjadi penopang kuatnya kebangsaan kita.
PGRI bukan organisasi homogen dalam kepercayaan tertentu, kita bukan organisasi homogen dalam kesukuan tertentu, kita bukan organisasi homogen dalam membela satu pihak tertentu. PGRI adalah The Real Indonesia. PGRI adalah wajah kebangsaan kita. Membela masa depan bangsa Indonesia melalui pendidikan. PGRI tak dibutuhkan bila pendidikan tak dibutuhkan umat manusia. Sayangnya pendidikan hanya bisabu berjalan hanya dengan tenaga para guru dan PGRI adalah rumah para guru, bukan yang lain.
Comments
Post a Comment