[5/21, 3:34 AM] Gurin Mat: *”HARGA SEORANG TAMU“*
*Ada seorang perempuan mengeluh kepada Rasulullah saw karena perilaku suaminya.*
*Suaminya selalu mengundang orang-orang datang ke rumahnya dan menjamunya sehingga tamu-tamu tersebut menyebabkan sang istri menjadi repot dan merasa kelelahan.*
*Lalu wanita tersebut keluar meninggalkan Rasul saw dan tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Rasul saw.*
*Setelah beberapa waktu...*
*Rasul saw pergi ke rumah suami-istri tersebut, Rasul saw bersabda kepada sang suami : "Sesungguhnya aku adalah tamu di rumahmu hari ini."*
*Betapa bahagianya sang suami demi mendengar ucapan Rasul saw tersebut, maka dia segera menghampiri istrinya untuk mengabarkan bahwa tamu hari ini adalah Rasul saw.*
*Si istri pun merasa bahagia karena kabar tersebut, dia pun segera memasak makanan yang lezat dan nikmat.*
*Dia lakukan hal tersebut dengan penuh rasa bahagia di dalam hatinya.*
*Ketika Rasul saw akan pergi dari rumahnya setelah beliau mendapatkan kemuliaan dan merasa bahagia dengan keridhoan pasangan itu.*
*قال للزوج عندما أخرج من بيتك دع زوجتك تنظر إلى الباب الذي أخرج منه*
*Rasul saw bersabda kepada suaminya : "Ketika aku akan keluar nanti dari rumahmu, panggil istrimu dan perintahkan dia untuk melihat ke pintu tempat aku keluar."*
*Maka sang istri melihat Rasul saw keluar dari rumahnya diikuti oleh binatang-binatang melata, seperti kalajengking dan berbagai binatang yang berbahaya lainnya di belakang Rasul saw.*
*Terkejutlah sang istri dengan apa yang dilihat di depannya.*
*فقال لها رسول الله هكذا دائما عندما يخرج الضيوف من بيتكِ يخرج كل البلاء والضرر والدواب من منزلك.*
*Maka Rasul saw bersabda : "Seperti itulah yang terjadi. Setiap kali tamu keluar dari rumahmu, maka keluar pula segala bala', bahaya dan segala binatang yang membahayakan dari rumahmu."*
*"Maka inilah hikmah memuliakan tamu dan tidak berkeluh kesah karena kedatangannya."*
*Rumah yang banyak dikunjungi tamu adalah rumah yang dicintai ALLAH.*
*Begitu indahnya rumah yang selalu terbuka untuk anak kecil atau dewasa.*
*Rumah yang di dalamnya turun rahmat dan berbagai keberkahan dari langit.*
*قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " إذا أراد الله بقوم خيراً أهدى لهم هدية.*
*Rasul saw bersabda : "Jika ALLAH menginginkan kebaikan terhadap satu kaum, maka ALLAH akan memberikan hadiah kepada mereka.*
*Para sahabat bertanya : "Hadiah apakah itu, ya Rasul saw...............?."*
*قال: الضيف ينزل برزقه، ويرتحل بذنوب أهل البيت."*
*Rasul saw bersabda : "Tamu akan menyebabkan turunnya rezeki untuk pemilik rumah dan menghapus dosa-dosa penghuni rumah."*
*وقال صلى الله عليه وسلم: كل بيت لا يدخل فيه الضيف لا تدخله الملائكة."*
*Rasul saw bersabda : "Rumah yang tidak dimasuki tamu (tidak ada tamu), maka Malaikat Rahmat tidak akan masuk ke dalamnya."*
*وقال صلى الله عليه وسلم: " الضيف دليل الجنة."*
*Rasul saw bersabda : "Tamu adalah penunjuk jalan menuju Surga."*
*وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه*
*Rasul saw bersabda : "Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya."*
*Mari, saling bersilaturahmi..*
[5/23, 4:11 AM] Gurin Mat: *Semua Orang Mati Kecuali Penulis*
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Dalam sebuah syair lagu yang berjudul “Pertemuan” entah karya siapa syair lagu ini, diantaranya berbunyi.... “Aku enggan untuk pulang. Walau waktu tlah menjelang. *Ku ingin hidup seribu tahun lagi*.” Mungkin semua manusia ingin hidup sehat dan bahagia melintasi hidup seribu tahun. Apalagi yang hidupnya penuh cinta minus utang.
Namanya juga manusia makhluk Tuhan paling istimewa, unik dan “centil”. Manusia menurut Prof. Drijarkara adalah makhluk yang tidak pernah puas melihat kenyataan dalam bentuk selesai. Tidak ada yang selesai dan memuaskan bagi manusia. Manusia adalah makhluk berakal dengan akalnya inilah Ia bisa melakukan apapun dan dapat berimajinasi apapun.
Manusia sekalipun fisiknya di bumi Ia bisa berkelana ke jagat raya luar angkasa bahkan membayangkan jalan-jalan di Surga. Itulah manusia. Ia tidak hanya sekedar nakal tetapi otak kanan imajinatifnya bisa merambah dunia dan seisinya. Bahkan bukankah tragedi “Bom Surabaya” diantaranya karena imajinasi satu keluarga pelaku ingin segera hidup bahagia di Surga?
Sahabat pembaca, maaf prolog dalam tulisan awal ini agak panjang. Sebenarnya Saya ingin sampaikan tentang realitas kematian manusia yang niscaya namun karyanya tak bisa mati. Manusia semua akan mati, semua yang bernyawa pasti mati. “Kullu Nafsin Dzaiqotul Maut” . Tapi ingat! Amal kebaikan tidak akan musnah.
Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” Realitasnya keluarga dan harta orang yang mati tak menemaninya di kubur kecuali amal baiknya.
Sahabat pembaca ada satu amal baik yang tidak bisa dilakukan semua orang yakni menulis kebaikan. Menulis adalah keterampilan khusus yang nilai amalnya pun khusus. Si Penulis bisa mati tapi tulisannya akan hidup selamnya. Ungkapan “Semua manusia akan mati kecuali penulis” adalah sebuah motivasi pada kita semua agar senantiasa berkhidmat melalui tulisan.
Bila kita berkhidmat hanya menggunakan mulut, badan dan harta kita semuanya akan “habis kuota” namun bila kita berkhidmat melalui tulisan maka usianya bisa ribuan tahun. Karya pemikiran Socrates, Plato, Aristoteles sampai saat ini masih menjadi rujukan dunia karena dituliskan? Tulisan pada hakekatnya “mampu menghidupkan orang yang mati” Kehebatan tokoh-tokoh besar pada zamannya yang ditulis ulang akan sangat bermanfaat untuk diteladani.
Seorang Raja besar yang buta hurup dan istana mewahnya akan hancur karena zaman dan dinamika kekuasaan yang silih berganti. Bahkan bangunan-bangunan sucipun bisa hancur karena ekspansi dan ambisi politik kekuasaan. Namun tulisan yang luar biasa bermanfaat akan abadi dalam kitab dan pemikiran kolektif masyarakat. Tuslisan akan tetap hidup dalam masyarakat, plus penulisnya.
Sahabat pembaca marilah kita belajar menulis. Marilah kita berkhidmat melalui tulisan. Ungkapan bijak mengatakan “Jangan lihat apa yang dilakukan Si Penulis tapi lihat apa yang dituliskan”. Isi sebuah tulisan dari Si Pengarangnya jauh lebih penting dari bagaimana keseharian Si Penulisnya. Apalagi bila tulisan sudah melintas puluhan bahkan ratusan tahun. Bukan bagaimana perilaku SI Penulis melainkan bagaimana isi tulisannya.
Sahabat pembaca mari menulis yang bermanfaat dan memberi pencerahan bagi masyarakat. Semoga tulisan kita mampu menjadi asbab bertambahnya amalan kita ditengah banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Mari menulis sebagai “peninggalan” terbaik bagi manusia selanjutnya. Semoga sekalipun tulisan kita belum istimewa, setidaknya menjadi wujud ikhtiar kecil untuk berbuat baik melalui tulisan.
Sahabat, menulis itu ibarat meniru sifat Tuhan. Kita bisa membaca, memaknai sebuah tulisan walau penulisnya tidak terlihat. Tuhan ada karena ada ciptaan-Nya. Penulispun ada karena ada karya tulisnya. Penulis memberikan ilmu dan pengkabaran melalui tulisan meniru sifat Tuhan yang pengasih, memberikan pengkabaran dan ilmu. Tuhan maha pengasih dan penyanyang, Si Penulispun dapat berbagi kasih dan sayang melalui tulisan indahnya. Mari menulis sebagai wujud khidmat kita pada sesama. Menulis adalah menggada dan mengabadikan diri.
*Ada seorang perempuan mengeluh kepada Rasulullah saw karena perilaku suaminya.*
*Suaminya selalu mengundang orang-orang datang ke rumahnya dan menjamunya sehingga tamu-tamu tersebut menyebabkan sang istri menjadi repot dan merasa kelelahan.*
*Lalu wanita tersebut keluar meninggalkan Rasul saw dan tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Rasul saw.*
*Setelah beberapa waktu...*
*Rasul saw pergi ke rumah suami-istri tersebut, Rasul saw bersabda kepada sang suami : "Sesungguhnya aku adalah tamu di rumahmu hari ini."*
*Betapa bahagianya sang suami demi mendengar ucapan Rasul saw tersebut, maka dia segera menghampiri istrinya untuk mengabarkan bahwa tamu hari ini adalah Rasul saw.*
*Si istri pun merasa bahagia karena kabar tersebut, dia pun segera memasak makanan yang lezat dan nikmat.*
*Dia lakukan hal tersebut dengan penuh rasa bahagia di dalam hatinya.*
*Ketika Rasul saw akan pergi dari rumahnya setelah beliau mendapatkan kemuliaan dan merasa bahagia dengan keridhoan pasangan itu.*
*قال للزوج عندما أخرج من بيتك دع زوجتك تنظر إلى الباب الذي أخرج منه*
*Rasul saw bersabda kepada suaminya : "Ketika aku akan keluar nanti dari rumahmu, panggil istrimu dan perintahkan dia untuk melihat ke pintu tempat aku keluar."*
*Maka sang istri melihat Rasul saw keluar dari rumahnya diikuti oleh binatang-binatang melata, seperti kalajengking dan berbagai binatang yang berbahaya lainnya di belakang Rasul saw.*
*Terkejutlah sang istri dengan apa yang dilihat di depannya.*
*فقال لها رسول الله هكذا دائما عندما يخرج الضيوف من بيتكِ يخرج كل البلاء والضرر والدواب من منزلك.*
*Maka Rasul saw bersabda : "Seperti itulah yang terjadi. Setiap kali tamu keluar dari rumahmu, maka keluar pula segala bala', bahaya dan segala binatang yang membahayakan dari rumahmu."*
*"Maka inilah hikmah memuliakan tamu dan tidak berkeluh kesah karena kedatangannya."*
*Rumah yang banyak dikunjungi tamu adalah rumah yang dicintai ALLAH.*
*Begitu indahnya rumah yang selalu terbuka untuk anak kecil atau dewasa.*
*Rumah yang di dalamnya turun rahmat dan berbagai keberkahan dari langit.*
*قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " إذا أراد الله بقوم خيراً أهدى لهم هدية.*
*Rasul saw bersabda : "Jika ALLAH menginginkan kebaikan terhadap satu kaum, maka ALLAH akan memberikan hadiah kepada mereka.*
*Para sahabat bertanya : "Hadiah apakah itu, ya Rasul saw...............?."*
*قال: الضيف ينزل برزقه، ويرتحل بذنوب أهل البيت."*
*Rasul saw bersabda : "Tamu akan menyebabkan turunnya rezeki untuk pemilik rumah dan menghapus dosa-dosa penghuni rumah."*
*وقال صلى الله عليه وسلم: كل بيت لا يدخل فيه الضيف لا تدخله الملائكة."*
*Rasul saw bersabda : "Rumah yang tidak dimasuki tamu (tidak ada tamu), maka Malaikat Rahmat tidak akan masuk ke dalamnya."*
*وقال صلى الله عليه وسلم: " الضيف دليل الجنة."*
*Rasul saw bersabda : "Tamu adalah penunjuk jalan menuju Surga."*
*وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه*
*Rasul saw bersabda : "Barangsiapa beriman kepada ALLAH dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya."*
*Mari, saling bersilaturahmi..*
[5/23, 4:11 AM] Gurin Mat: *Semua Orang Mati Kecuali Penulis*
Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PGRI Kota Sukabumi)
Dalam sebuah syair lagu yang berjudul “Pertemuan” entah karya siapa syair lagu ini, diantaranya berbunyi.... “Aku enggan untuk pulang. Walau waktu tlah menjelang. *Ku ingin hidup seribu tahun lagi*.” Mungkin semua manusia ingin hidup sehat dan bahagia melintasi hidup seribu tahun. Apalagi yang hidupnya penuh cinta minus utang.
Namanya juga manusia makhluk Tuhan paling istimewa, unik dan “centil”. Manusia menurut Prof. Drijarkara adalah makhluk yang tidak pernah puas melihat kenyataan dalam bentuk selesai. Tidak ada yang selesai dan memuaskan bagi manusia. Manusia adalah makhluk berakal dengan akalnya inilah Ia bisa melakukan apapun dan dapat berimajinasi apapun.
Manusia sekalipun fisiknya di bumi Ia bisa berkelana ke jagat raya luar angkasa bahkan membayangkan jalan-jalan di Surga. Itulah manusia. Ia tidak hanya sekedar nakal tetapi otak kanan imajinatifnya bisa merambah dunia dan seisinya. Bahkan bukankah tragedi “Bom Surabaya” diantaranya karena imajinasi satu keluarga pelaku ingin segera hidup bahagia di Surga?
Sahabat pembaca, maaf prolog dalam tulisan awal ini agak panjang. Sebenarnya Saya ingin sampaikan tentang realitas kematian manusia yang niscaya namun karyanya tak bisa mati. Manusia semua akan mati, semua yang bernyawa pasti mati. “Kullu Nafsin Dzaiqotul Maut” . Tapi ingat! Amal kebaikan tidak akan musnah.
Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” Realitasnya keluarga dan harta orang yang mati tak menemaninya di kubur kecuali amal baiknya.
Sahabat pembaca ada satu amal baik yang tidak bisa dilakukan semua orang yakni menulis kebaikan. Menulis adalah keterampilan khusus yang nilai amalnya pun khusus. Si Penulis bisa mati tapi tulisannya akan hidup selamnya. Ungkapan “Semua manusia akan mati kecuali penulis” adalah sebuah motivasi pada kita semua agar senantiasa berkhidmat melalui tulisan.
Bila kita berkhidmat hanya menggunakan mulut, badan dan harta kita semuanya akan “habis kuota” namun bila kita berkhidmat melalui tulisan maka usianya bisa ribuan tahun. Karya pemikiran Socrates, Plato, Aristoteles sampai saat ini masih menjadi rujukan dunia karena dituliskan? Tulisan pada hakekatnya “mampu menghidupkan orang yang mati” Kehebatan tokoh-tokoh besar pada zamannya yang ditulis ulang akan sangat bermanfaat untuk diteladani.
Seorang Raja besar yang buta hurup dan istana mewahnya akan hancur karena zaman dan dinamika kekuasaan yang silih berganti. Bahkan bangunan-bangunan sucipun bisa hancur karena ekspansi dan ambisi politik kekuasaan. Namun tulisan yang luar biasa bermanfaat akan abadi dalam kitab dan pemikiran kolektif masyarakat. Tuslisan akan tetap hidup dalam masyarakat, plus penulisnya.
Sahabat pembaca marilah kita belajar menulis. Marilah kita berkhidmat melalui tulisan. Ungkapan bijak mengatakan “Jangan lihat apa yang dilakukan Si Penulis tapi lihat apa yang dituliskan”. Isi sebuah tulisan dari Si Pengarangnya jauh lebih penting dari bagaimana keseharian Si Penulisnya. Apalagi bila tulisan sudah melintas puluhan bahkan ratusan tahun. Bukan bagaimana perilaku SI Penulis melainkan bagaimana isi tulisannya.
Sahabat pembaca mari menulis yang bermanfaat dan memberi pencerahan bagi masyarakat. Semoga tulisan kita mampu menjadi asbab bertambahnya amalan kita ditengah banyaknya dosa yang telah kita lakukan. Mari menulis sebagai “peninggalan” terbaik bagi manusia selanjutnya. Semoga sekalipun tulisan kita belum istimewa, setidaknya menjadi wujud ikhtiar kecil untuk berbuat baik melalui tulisan.
Sahabat, menulis itu ibarat meniru sifat Tuhan. Kita bisa membaca, memaknai sebuah tulisan walau penulisnya tidak terlihat. Tuhan ada karena ada ciptaan-Nya. Penulispun ada karena ada karya tulisnya. Penulis memberikan ilmu dan pengkabaran melalui tulisan meniru sifat Tuhan yang pengasih, memberikan pengkabaran dan ilmu. Tuhan maha pengasih dan penyanyang, Si Penulispun dapat berbagi kasih dan sayang melalui tulisan indahnya. Mari menulis sebagai wujud khidmat kita pada sesama. Menulis adalah menggada dan mengabadikan diri.
Comments
Post a Comment