MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE
- Get link
- X
- Other Apps
Think
pair share merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun
1985 sebagai salah satu struktur kegiatan cooperative learning. Think
pair share memberikan waktu kepada para siswa untuk berpikir dan
merespon serta saling bantu satu sama lain. Think pair share memberi
siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang
lain. Keunggulan lain dari pembelajaran ini adalah optimalisasi
partisipasi siswa.
Kagan dalam (Atik Widarti :2007) menyatakan manfaat think pair share sebagai berikut:- Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka terlibat dalam kegiatan think pair share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik.
- Para guru juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan think pair share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.
Fogarty
dan Robin (1996) menyatakan bahwa teknik belajar mengajar think pair
share mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut:
- Mudah dilaksanakan dalam kelas yang besar,
- Memberikan waktu kepada siswa untuk merefleksikan isi materi pelajaran,
- Memberikan waktu kepada siswa untuk melatih mengeluarkan pendapat sebelum berbagi dengan kelompok kecil atau kelas secara keseluruhan.
Dengan
teknik belajar mengajar think pair share yang disebutkan Fogarty dan
Robin siswa dilatih untuk banyak berfikir dan saling tukar pendapat baik
dengan teman sebangku ataupun dengan teman sekelas, sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar ranah kognitif siawa karena siswa dituntut
untuk mengikuti proses pembelajaran agar dapat menjawab setiap
pertanyaan dan berdiskusi.
Karakteristik pembelajaran
Ciri
utama pada model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah
tiga langkah utamanya yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Yaitu
langkah think (berpikir secara individual), pair (berpasangan dengan
teman sebangku), dan share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau
seluruh kelas)
1. Think (berpikir secara individual)
Pada
tahap think, guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang
dikaitkan dengan pelajaran, dan siswa diminta untuk berpikir secara
mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pada tahapan
ini, siswa sebaiknya menuliskan jawaban mereka, hal ini karena guru
tidak dapat memantau semua jawaban siswa sehingga melalui catatan
tersebut guru dapat mengetahui jawaban yang harus diperbaiki atau
diluruskan di akhir pembelajaran. Dalam menentukan batasan waktu untuk
tahap ini, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa untuk
menjawab pertanyaan yang diberikan, jenis dan bentuk pertanyaan yang
diberikan, serta jadwal pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.
Kelebihan
dari tahap ini adalah adanya “think time” atau waktu berpikir yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir mengenai jawaban
mereka sendiri sebelum pertanyaan tersebut dijawab oleh siswa lain.
Selain itu, guru dapat mengurangi masalah dari adanya siswa yang
mengobrol, karena tiap siswa memiliki tugas untuk dikerjakan sendiri.
Langkah
kedua adalah guru meminta para siswa untuk berpasangan dan
mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama
periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama. Biasanya guru
mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. Setiap
pasangan siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka
sebelumnya sehingga hasil akhir yang didapat menjadi lebih baik, karena
siswa mendapat tambahan informasi dan pemecahan masalah yang lain.
Pada
langkah akhir ini guru meminta pasangan-pasangan tersebut untuk berbagi
hasil pemikiran mereka dengan pasangan lain atau dengan seluruh kelas.
Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari
pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separuh
dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.
Langkah ini merupakan penyempurnaan dari langkah-langkah sebelumnya,
dalam arti bahwa langkah ini menolong agar semua kelompok menjadi lebih
memahami mengenai pemecahan masalah yang diberikan berdasarkan
penjelasan kelompok yang lain. Hal ini juga agar siswa benar-benar
mengerti ketika guru memberikan koreksi maupun penguatan di akhir
pembelajaran.
Langkah-langkah (syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe think pair share
Langkah-langkah
(syntaks) model pembelajaran kooperatif tipe think pair share terdiri
dari lima langkah, dengan tiga langkah utama sebagai ciri khas yaitu
think, pair, dan share. Kelima tahapan pembelajaran dalam model
pembelajaran kooperatif tipe think pair share dapat dilihat pada tabel
berikut.
Langkah-langkah
|
Kegiatan Pembelajaran
|
Tahap 1
Pendahuluan
|
- Guru
menjelaskan aturan main dan batasan waktu untuk tiap kegiatan,
memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah
- Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai oleh siswa
|
Tahap 2
Think
|
- Guru menggali pengetahuan awal siswa melalui kegiatan demonstrasi
- Guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada seluruh siswa
- Siswa mengerjakan LKS tersebut secara individu
|
Tahap 3
Pair
|
- Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya
- Siswa berdiskusi dengan pasangannya mengenai jawaban tugas yang telah dikerjakan
|
Tahap 4
Share
|
- Satu pasang siswa dipanggil secara acak untuk berbagi pendapat kepada seluruh siswa di kelas dengan dipandu oleh guru.
|
Tahap 5
Penghargaan
|
- Siswa dinilai secara individu dan kelompok
|
Penjelasan dari setiap langkah adalah sebagai berikut:
a. Tahap pendahuluan
Awal
pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi
siswa agar terlibat pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru
juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk
setiap tahap kegiatan.
Proses
think pair share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk
menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi batasan waktu
(“think time”) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual
terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru harus
mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang
diberikan.
Pada
tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru
menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini
dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar
dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan
pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang
telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk
mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama.
Pada
tahap ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan
atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap
anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran
mereka.
Siswa
mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok.
Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap think, sedangkan
nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama
pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.
Model
pembelajaran kooperatif tipe think pair share dilandasi oleh teori
belajar konstruktivisme. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa siswa
harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya
apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar
memahami dan menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan
masalah dan menemukan segala sesuatu untuk dirinya.
Menurut
teori konstruktivisme, siswa sebagai pemain dan guru sebagai
fasilitator. Guru mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara
optimal. Siswa belajar bukanlah menerima paket-paket konsep yang sudah
dikemas oleh guru, melainkan siswa sendiri yang mengemasnya. Bagian
terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses
pembelajaran, siswalah yang harus aktif mengembangkan kemampuan mereka,
bukan guru atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap
hasil belajarnya.
Daftar Pustaka:
Daftar Pustaka:
Widarti,
A. (2007). Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Think-Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Pokok Bahasan Segi Empat Pada
Siswa Kelas VII Semester 2. [Online]. Tersedia:
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgi-bin/library. [14 September 2009]
Fogarty
dan Robin. (1996). Think/Pair/Share. [online]. Tersedia: www.Broward
kl2.fl.us/Ci/Whatsnew/strategies and such/
strategies/thinkpairshare.html [2 November 2009]
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment